Grup Diskusi

Ada pertanyaan dari informasi di Catatan Bunda? Bisa ditanyakan langsung di Grup

Waroeng Atjeh Bandung, Kuliner Khas Aceh dengan Ciri Khas Berbeda

Petualangan kuliner kali ini berlanjut ke Waroeng Atjeh Bandung. Masih dengan tema berburu makanan khas Aceh di Bandung. Sudah ada beberapa tempat makan khas Aceh yang pernah kami cicipi citarasanya. Sudah pernah baca? Silakan jelajahi blog Catatan Bunda ya.

Pada kesempatan kali ini, ceritanya kami baru saja mengurus suatu keperluan. Ketika urusan sudah selesai, perut terasa lapar. Kebetulan sudah masuk waktu untuk makan siang. Saat itu, kami pergi membawa anak bungsu saja, sementara anak sulung sedang sekolah siang itu. Setelah pulih dari penyakit cacar air, kami mulai beraktivitas kembali seperti semula. Sebelumnya hanya di rumah saja dan fokus pada proses pemulihan.

Dalam perjalanan pulang kala itu, kami melewati kawasan Taman Lalu Lintas dan menuju ke GOR Saparua. Ketika hampir tiba di lokasi GOR Saparua Bandung, kami teringat satu tempat makan. Lokasinya sangat dekat dari GOR Saparua. Tidak lain dan tidak bukan ialah Waroeng Atjeh Bandung.

Kami sudah beberapa kali mencoba makan di warung satu ini. Hanya saja, kami tidak sempat untuk mendokumentasikan saat mencicipi makanan di Waroeng Atjeh. Baru pada kesempatan kali ini, kami bisa melakukan hal tersebut.

Seperti apa pengalaman kulineran kami di Waroeng Atjeh Bandung? Ikuti terus cerita selengkapnya di sini.

waroeng atjeh bandung tempat makan siang untuk penggemar kuliner khas aceh - catatan bunda

Berburu Makan Siang dengan Kuliner Khas Aceh

Tempat makan di Bandung sangat banyak. Setiap tempat makan memiliki tema tersendiri. Apakah cocok untuk makan pagi atau sarapan? Apakah lebih nikmat saat makan siang dan makan malam? Atau malah bisa dinikmati dari pagi hingga malam hari?

Termasuk saat kulineran di Waroeng Atjeh Bandung. Kami biasa menikmati makanan di sini saat siang atau sore hari. Belum pernah kulineran di Waroeng Atjeh saat makan malam. Termasuk saat terakhir kami makan di sana. Ketika itu bertepatan dengan waktunya makan siang.

Siang itu sangatlah cerah. Kendaraan langsung kami arahkan menuju ke tempat makan. Tempat parkir Waroeng Atjeh Bandung lumayan luas, jadi kami tidak kesulitan untuk memarkir kendaraan. Kondisinya akan jauh berbeda bila datang saat hari libur atau hari Minggu.

Akan banyak warga yang beraktivitas di sekitar lokasi. Wajar saja, seberang tempat makan tersebut ada GOR Saparua. Satu ruang publik yang biasa digunakan untuk olahraga bagi masyarakat. Jadi, saat Minggu pagi hingga menjelang siang, suasananya akan sangat ramai.

pengunjung yang sedang menikmati makan siang di waroeng atjeh bandung - catatan bunda

Lokasi Waroeng Atjeh Bandung

Anda bisa menemukan lokasi tempat makan ini dengan mudah. Letaknya bersebelahan dengan GOR Saparua. Sebagai warga Bandung, tentu sudah sangat mengenal GOR Saparua. Minimal pernah olahraga ringan atau jogging di sana.

Bagi yang berasal dari luar Bandung bagaimana? Tenang saja. Liburan bersama keluarga di Bandung sudah sangat mudah. Anda bisa mengandalkan aplikasi penunjuk arah seperti Waze atau Google Maps walaupun belum pernah berkunjung ke Bandung sebelumnya. Anda tidak akan tersesat selama menikmati waktu liburan di Bandung.

Lokasi Waroeng Atjeh Bandung masih sangat dekat dengan pusat kota. Selain itu, lokasinya juga dekat dengan salah satu jalan utama kota Bandung, yaitu Jalan Riau. Waroeng Atjeh Bandung bisa anda temukan pada alamat lengkap berikut ini:

Jalan Ambon nomor 13 Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung 40115.

Seperti namanya, tempat makan ini berbeda dari restoran khas Aceh yang pernah kami coba. Nuansa tempat ini berasa seperti di warung makan. Rumahnya bernuansa kayu dan bambu. Ada beberapa meja dan kursi makan yang bisa dipilih ketika pengunjung datang ke lokasi.

Anda bisa datang mulai pukul 09.00 WIB saat Waroeng Atjeh mulai buka. Tempat ini akan beroperasi hingga pukul 21.00 WIB. Jadi, bagi anda yang mau makan malam di warung ini juga masih bisa. Tempat kulineran ini buka setiap hari lho. Mau datang hari apa saja boleh banget.

Sayangnya, ada satu hal yang mengganggu kenyamanan menurut kami. Siang itu, banyak pengunjung lain yang sedang berkunjung juga. Kami memilih tempat makan yang terletak di dekat pintu keluar. Mengapa? Karena banyak pengunjung yang nongkrong sambil merokok. Asapnya tersebar dan tercium di seluruh ruangan.

Sayang sekali menurut kami. Nilai tempat makan yang satu ini jadi turun drastis di mata kami sekeluarga. Faktor kenyamanan untuk keluarga tidak terlalu baik. Terutama pada saat banyak yang merokok di dalam ruangan. Jadi, kami berusaha menghabiskan makanan dengan cepat siang itu. Sumpek rasanya berada di dalam ruangan yang penuh aroma asap rokok.

aneka menu makanan di waroeng atjeh bandung - catatan bunda

Pilihan Menu dan Harga

Apa saja menu makanan yang disajikan di Waroeng Atjeh? Sudah pasti segala masakan dengan tema kuliner khas Aceh ya. Tidak ada tema dari daerah yang lain.

Menu masakan yang disediakan bermacam-macam. Beberapa contoh menunya ialah mie rebus, mie tumis, dan mie goreng khas Aceh. Selain itu, menu yang pasti ada ialah nasi goreng khas Aceh. Topping yang disediakan ada banyak. Mulai dari telur ayam, daging sapi, daging kambing, cumi-cumi, udang, hingga kepiting. Mana saja yang menjadi favorit anda? Boleh dong sharing di komentar.

Harga menu mie dan nasi goreng khas Aceh masih sangat terjangkau. Pengunjung bisa menikmati menu di atas mulai dari harga Rp 20.000 hingga Rp 49.000 per porsi.

Menu pendamping yang lain juga bisa anda pesan, contohnya seperti martabak khas Aceh dan roti cane. Untuk martabak Aceh, harganya berkisar dari Rp 12.000 hingga Rp 25.000 per porsi. Sementara roti cane, anda bisa dapatkan dengan harga Rp 9.000 hingga Rp 20.000 per porsi.

mie tumis Aceh pedas di Waroeng Atjeh Bandung - catatan bunda

Review Citarasa Makanan di Waroeng Atjeh Bandung

Jadi, bagaimana citarasa kuliner yang disajikan di Waroeng Atjeh Bandung? Apa saja yang menjadi ciri khas tempat makan satu ini?

Pilihan kami jatuh kepada mie tumis Aceh dan mie goreng Aceh saja. Ditambah dengan minuman dingin yang tersedia. Lalu, bagaimana dengan anak kami? Apakah ada menu makanan yang bisa dinikmati oleh anak?

Untuk anak, kami tidak bisa memilih menu yang ada di Waroeng Atjeh. Sebagaimana menu masakan Aceh, dominasi bumbu di makanannya sangat kuat dan sudah ada rasa pedas di dalamnya. Dengan demikian, tempat makan siang ini kurang cocok jika sedang membawa anak-anak. Untungnya, ada satu warung makan di depan Waroeng Atjeh.

Warung tersebut menjual menu bakso daging sapi. Akhirnya, kami putuskan untuk memesan satu porsi mie bakso untuk anak. Rasanya masih original, gurih, dan tidak pedas. Sebelumnya, kami sudah minta ijin kepada pemilik Waroeng Atjeh untuk pesan makanan dari luar untuk anak kami. Alhamdulillah diperbolehkan oleh pemiliknya.

Kembali lagi ke pesanan kami. Siang itu, pesanan lumayan padat. Banyak pengunjung lain yang menunggu pesanannya datang. Jadi, kami habiskan waktu sambil mengobrol dan menyuapi anak makan. Kebetulan, menu makanan anak sudah jadi terlebih dahulu. Setelah beberapa saat kemudian, barulah pesanan kami yang jadi dan diantarkan ke meja.

Secara visual, tampak ciri khas dari sajian mie goreng dan mie rebus khas Aceh di Waroeng Atjeh Bandung. Ciri khas ini membedakan sajian mie Aceh di sini dengan restoran Aceh yang pernah kami cicipi sebelumnya. Beberapa diantaranya ialah mie Aceh di Waroeng Atjeh menggunakan bumbu yang dominan berwarna merah. Sementara mie Aceh yang kami temui di Dapur Aceh, Cie Rasa Loom, dan lainnya menggunakan bumbu berwarna kuning.

mie goreng telur pedas di waroeng atjeh bandung - catatan bunda

Rasanya seperti apa?

Seperti pada masakan khas Aceh pada umumnya. Rasa bumbu di dalam masakan sangat terasa. Mie dibuat secara khusus dan tidak memakai mie yang ada di pasaran.

Rasa pedas dari mie Aceh juga demikian. Berbeda dari restoran khas Aceh lainnya, warung ini memiliki cara tersendiri untuk menampilkan rasa pedas pada mie Acehnya. Jika pada mie Aceh yang lain menggunakan bumbu pedas dari cabe yang digiling, sementara pada Waroeng Atjeh menggunakan cabe yang diiris-iris. Secara bawaan, sudah ada rasa pedas dari bumbunya. Untuk menambah rasa pedas, ditambahkan cabe merah yang diiris sesuai keinginan pengunjung.

Buat lidah kami, rasa olahan mie Acehnya tetap lezat. Hanya saja, levelnya masih berada di bawah rasa sajian kuliner di Dapur Aceh. Siapa yang sudah pernah coba kulineran di Dapur Aceh? Cobalah sendiri lain waktu untuk membandingkan sendiri. Ini penilaian menurut selera dan preferensi lidah kami sekeluarga yaa 😀

Ukuran porsinya juga besar. Mantap dan mengenyangkan untuk dihabiskan sendirian. Sesuai dengan harga yang ditawarkan menurut kami. Jika khawatir kebanyakan, anda bisa memakan satu porsi untuk dihabiskan dua orang.

Jika sudah selesai makan, pengunjung bisa membayar di kasir. Pembayaran di Waroeng Atjeh Bandung bisa dilakukan dengan beberapa metode. Mulai dari metode pembayaran secara tunai dan pembayaran memakai kartu debit BCA. Kami lebih memilih metode pembayaran yang kedua siang itu, lebih praktis dan mudah.

Demikian cerita dan pengalaman singkat saat kami kulineran makan siang. Tertarik mencoba olahan khas Aceh di Waroeng Atjeh Bandung? Silakan berkunjung ke warung makan tersebut ya. Nikmati sensasi dan kelezatannya.

Terimakasih banyak sudah menyimak cerita kami sampai akhir. Semoga pengalaman sederhana ini ada manfaatnya bagi para pembaca. Sampai jumpa pada kisah petualangan keluarga lainnya 😀

(Visited 174 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Grup Diskusi

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda