Free Update

Dapatkan update mingguan GRATIS dari Catatan Bunda yang akan dikirim langsung ke alamat email Anda

Puncak Bintang Bandung, Hiking Seru Berburu Surprise Egg

Sejak 2 tahun lalu, ada tetangga bilang bahwa jalan ke atas perumahan kami ada tempat wisata yang namanya Puncak Bintang Bandung.

“Hah? Ada bintangnya?”, tanya saya.

“Ada, bintang besar, kalau malam bintangnya akan menyala karena ada lampunya”, kata si tetangga.

Sejak itu saya bilang ke suami pengen wisata ke Puncak Bintang. Tempat yang jauh aja didatangin, masa kampung sebelah belum disamperin.

Akan tetapi, waktu untuk main ke Puncak Bintang Bandung tertunda terus karena saya hamil anak kedua. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Nanti saja kalau hamil besar kita jalan-jalan ke sana sekalian olahraga pikir saya.

Waktu pun terus berlalu. Rencana untuk naik ke Puncak Bintang Bandung tidak kunjung terlaksana. Sampai saya melahirkan anak kedua dan si kecil udah hampir usia 2 tahun, barulah rencana jalan-jalan ke Puncak Bintang Bandung bisa tercapai.

Sempat terbayang bagaimana susahnya kalau jalan-jalan ke Puncak Bintang Bandung harus ngajak anak-anak. Disuruh jalan mengikuti rute, pasti anak-anak akan cepat bosan. Belum lagi kalau mereka capek dan minta gendong. Bawa badan sendiri buat hiking aja sudah penuh perjuangan, apalagi ditambah dengan menggendong anak? 😀

Lebih ringan kalau cuma pergi berdua. Bisa sambil pacaran juga di atas sana. Uugghh, sayangnya ini hanyalah sebatas angan-angan juga. Kalau pergi berdua, lalu anak-anak mau dikemanain?

pemandangan alam di jalan menuju puncak bintang - catatan bunda

Bermain dengan Anak di Puncak Bintang Bandung

Sambil nyikat kamar mandi, sambil ngelamun. Criiiinnggg, tiba-tiba ide muncul di kepala saya. Bak film kartun, gambar lampu menyala di atas kepala. Memang ya, kegiatan monoton seperti menyikat kamar mandi ternyata bisa mendatangkan inspirasi.

Mirza sudah lama minta surprise egg, tapi buat apa mainan begitu. Mending beli mainan ajalah gak usah pakai telur-telur. Jadinya mainan itu tidak pernah saya beli.

Mumpung marketplace bolak-balik ngabarin ada cashback, akhirnya saya pun memanfaatkan kode vouchernya untuk beli beberapa surprise egg untuk menyiapkan permainan anak-anak.

Rencananya mainan tersebut akan kami jadikan bahan untuk main di area Puncak Bintang Bandung. Mulailah saya berburu mainan anak di marketplace. Biasa, saya cari mainan dengan harga murah, tetapi tidak murahan.

Beli Perlengkapan untuk Permainan

Setelah survey beberapa waktu, saya menemukan beberapa toko yang menjual surprise egg. Dari beberapa toko tersebut, saya masih sortir lagi. Ada beberapa tips mudah dari saya buat belanja online di marketplace.

Tips sederhana dari saya saat mencari mainan atau belanja online di marketplace:

  1. Cari yang harga mainannya murah, setelah itu pakai fitur range harga;
  2. Bandingkan foto mainannya, saya lebih suka kalau fotonya hasil jepretan si pedagang karena lebih nyata secara visual;
  3. Lihat penilaian dan review dari para pembeli, bukan hanya dari bintang-bintangnya ya. Karena banyak juga pembeli yang asal memberi penilaian berupa bintang, tetapi tidak pakai alasan;
  4. Lihat response rate Kalau jarang atau lama balas chat, mending jangan beli di toko itu. Kalau ada apa-apa sama barang yang dikirim, nanti malah repot dan jengkel sendiri karena kelamaan menunggu responnya;

Setelah berburu di beberapa toko, akhirnya saya dapat mainan yang saya mau. Beberapa hari kemudian, pesanan saya tiba di rumah. Saya pun mulai mempersiapkan mainan tersebut untuk dibawa ke Puncak Bintang Bandung.

menarik truk mainan di area puncak bintang - catatan bunda

Tujuan Wisata Alam Murah di Bandung

Sampai di hari H, kami mulai berangkat ke Puncak Bintang pada pukul 8 pagi. Sebenarnya sudah kesiangan menurut kami. Seandainya kami berangkat lebih pagi, kami bisa merasakan udara yang lebih dingin dan lebih segar lagi.

Jarak antara rumah kami dan lokasi Puncak Bintang tidak terlalu jauh. Tantangan terbesarnya ialah jalanan menuju lokasi wisata yang sangat terjal dan terus mendaki. Beberapa ada yang berbentuk jalanan kampung yang bergelombang tanpa aspal.

Baca juga  Alun-Alun Bandung, Wisata Murah Meriah untuk Keluarga

Anda tertarik untuk jalan-jalan ke sini? Cukup ikuti peta lokasinya di bawah ini ya. Anda bisa menuju Puncak Bintang Bandung dengan masuk dari Jalan Bojongkoneng atau Jalan Padasuka Bandung.

Saat perjalanan, jendela mobil kami biarkan terbuka. Dengan membuka jendela, anak-anak bisa menikmati pemandangan dan sejuknya udara pagi yang menerpa muka mereka. Tidak hanya pemandangan hijau, sesekali mereka juga takjub kalau melihat ayam, bebek, anjing milik warga sekitar yang ada di pinggir jalan. Bahkan ada juga warga yang memelihara monyet.

Beda dengan Dek Chayra yang diam, Mirza lebih sering nanya dan berkomentar selama perjalanan. Sekali waktu Mirza ngomel, “Iih, Bau apa ini?”.

Otomatis saya pun ikut mengendus dan tersenyum menjawab, “ini bau kotoran (eek) sapi” hahahaha 😀

Beberapa waktu selanjutnya, kami meneruskan perjalanan. “Kenapa telinganya budeg?”, tanya Kakak tiba-tiba.

Sesederhana mungkin kami coba menjelaskan pada kakak. Tekanan udara di bagian atas dan di bawah, tempat rumah kakak jauh berbeda. Karena dari tadi kita jalan menanjak, jadi posisi kita saat ini berada lebih tinggi dari posisi ketika ada di rumah.

Paham atau tidak, tapi dia juga bisa membayangkan saat naik pesawat sesekali telinganya terasa jadi budek. Dari obrolan ini, Kakak Mirza belajar tentang tekanan udara dan cara mengatasinya dengan mudah. Kakak bisa mengatasinya dengan menelan ludah, minum ataupun sambil makan.

Perjalanan ke Puncak Bintang Bandung memang lumayan lama. Jalanan yang kami lalui pun berupa jalan setapak saja. Di tengah jalan yang menanjak, kami melihat seorang bapak yang sedang naik sepeda.

Kami lihat bapak tersebut bersusah payah mengayuh sepedanya. Kebayang dong, gimana kerasnya betis si bapak dan ngos-ngosan nafasnya supaya sepedanya bisa sampai ke puncak. Saat itu juga Mirza belajar butuh usaha untuk mendapat yang kita inginkan. Mirza lebih enak tinggal duduk manis di mobil, tanpa harus pegel-pegel mengayuh sepeda.

Sampai di tujuan, mobil pun diparkir di lokasi yang sudah ditentukan. Ketika mobil selesai terparkir, pandangan saya tertuju ke plang dengan tulisan ‘Warung Moko’. Lah, tempat ini sudah pernah kami datangi 8 tahun yang lalu.

Ternyata Puncak Bintang itu lokasinya berseberangan persis dengan Warung Moko yang 8 tahun yang lalu masih berupa hamparan hutan pinus.

loket tiket masuk puncak bintang - catatan bunda

Hiking dan Bermain Bersama Anak di Puncak Bintang

Untuk masuk ke area Puncak Bintang Bandung, pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak. Tidak terlalu jauh. Jalan tersebut bisa saya manfaatkan untuk media bermain anak.

Mulai dari spanduk Puncak Bintang Bandung, saya mulai menebar telur warna-warni yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Mirza bersiap-siap menarik mainan truk kayu miliknya dan adek Chayra pun tidak sabar mendorong keranjang mainannya untuk memungut surprise egg.

Jalanan yang ditutupi batako ini memberi tantangan tersendiri bagi anak-anak. Beberapa kali kondisi jalan setapak tersebut membuat truk kayu Mirza oleng hilang keseimbangan. Sampai akhirnya truk mainannya terguling dan telur-telur yang sudah terkumpul pun berserakan. Kakak pun dengan sabar mengutip kembali dan lebih berhati-hati saat menarik truknya, sama sekali tidak terlihat kesal di raut mukanya.

Sedangkan keranjang milik dek Chayra lebih stabil, seharusnya keranjang itu ditarik. Akan tetapi, dia lebih milih untuk mendorong saja. Mungkin biar tantangannya lebih berat.

Lucunya, mereka kenapa tidak berkompetisi ya?

Baca juga  Restoran Everfresh Fish Market Jakarta, Surganya Pecinta Seafood

Khususnya Mirza yang lebih giat untuk memungut telur. Mengapa kakak tidak memasukkan semuanya saja ke truk miliknya? Akan tetapi, tiap kakak memasukkan 1 telur ke truk, telur berikutnya dia berikan ke adiknya.

Kalau saya jadi Chayra, saya pungutin aja satu-satu telur yang ada di truk kakak. Ternyata tidak. Chayra dengan kacamata gayanya serius mengikuti permainan. Dia senang sekali kalau ketemu telur, lari, memasukkan ke dalam keranjangnya dan berbagi telur ke Kakak Mirza.

Melihat kedua kakak beradik ini, seketika saya terharu dan tersisip doa untuk mereka berdua, “Teruslah begitu ya Nak. Kakak mengayomi adik, dan adik mendukung kakaknya. Tetap kompak dan kerjasama yang solid sampai kapan pun.”

membuka mainan dari surprise egg di puncak bintang - catatan bunda

Jalan Kaki ke Dermaga Bintang

Permainan berburu surprise egg ini berlanjut sampai kami masuk ke kawasan Puncak Bintang Bandung. Sebelum masuk, pengunjung akan melalui tempat pembelian tiket.

Biaya masuk ke lokasi Puncak Bintang Bandung ialah Rp 15.000 / orang. Sedangkan tiket masuk untuk anak-anak usia 5 tahun ke bawah masih gratis.

Dari pintu masuk, terdapat 2 cabang jalan. Jalan ke kiri rute yang lebih menanjak dan bisa menembus sampai ke patahan Lembang dengan jarak tempuh kurang lebih 1,7km. Sedangkan ke kanan jalannya lebih landai dan menuju ke Dermaga Bintang. Kami pilih ke kanan, karena lebih aman untuk anak-anak.

Bagi anda yang suka bermain flying fox, anda bisa menemukannya di area Puncak Bintang Bandung. Dari loket pintu masuk, ikuti jalan ke arah kiri saja yang sebelumnya kami sebutkan.

Ketika semua telur sudah terkumpul, kami istirahat sejenak di area yang sudah disediakan. Ada bangku dan potongan-potongan kayu yang bisa diduduki.

Dari permainan sederhana yang dilakukan sebelumnya, jumlah telur yang diperoleh kakak dan adik jumlahnya sama. Masing-masing mendapat 10 buah telur.

Namanya anak-anak, mana bisa disuruh istirahat. Akhirnya acara untuk membuka surprise egg menjadi cara kami mengisi waktu istirahat.

Selesai istirahat, kami pun lanjut jalan kaki menuju Dermaga Bintang. Dermaga Bintang ini seperti menara yang terdiri dari beberapa tingkat. Untuk naik kesana, para pengunjung harus naik tangga yang sudah disediakan. Di bagian atas, para pengunjung bisa berfoto-foto dengan pemandangan kota Bandung hingga foto selfie.

Apakah kami naik sampai ke atas Dermaga Bintang? Dengan alasan keamanan dan kelelahan, saya memutuskan untuk bermain di area bawah Dermaga Bintang saja. Tanpa perlu naik ke atas, pemandangan kota Bandung juga sudah bisa kami nikmati dengan jelas.

Naik turun bukit kecil yang terjal memberikan keseruan tersendiri buat Mirza dan Chayra. Sambil menikmati pemandangan, saya pun mengeluarkan 2 pistol mainan Mirza. Memanfaatkan lahan yang ada, saya dan Mirza pun pura-pura latihan menembak. Sedangkan dek Chayra jadi asisten memasukan peluru ke masing-masing pistol.

dermaga bintang di puncak bintang bandung - catatan bunda

Jajan Makanan Ringan di Warung Moko

Terik matahari sudah mulai menyengat, kami pun jalan kembali keluar area Puncak Bintang Bandung. Niatnya mau pulang langsung ke rumah, tetapi saya penasaran dengan Warung Moko. Teringat dengan pisang goreng kejunya yang nikmat. Didukung dengan perut kosong karena belum sarapan, akhirnya kami singgah ke sana. Selesai jalan-jalan ke satu tempat wisata, memang tidak bisa lepas dari yang namanya wisata kuliner keluarga.

Mekanismenya sedikit berbeda dari kunjungan kami berdua 8 tahun yang lalu. Ketika masuk dan mau cari tempat duduk, tiba-tiba saya diteriakin akang-akang, “Bu.. Bu.. Sebelum masuk harus pesan dulu.”

Ketika saya menoleh ke belakang, keliatan si akang nongol dari balik tembok dan ternyata itu tempat untuk memesan makanan. Oooh… Ternyata begini sekarang peraturannya. Karena dulu saya masuk dulu, ngobrol-ngobrol, foto-foto, baru pesan makanan.

Baca juga  Farmhouse Susu Lembang, Destinasi Wisata Keluarga Bergaya Eropa

Saya pun menghampiri si akang dan dia langsung me-wajib-kan.. ya para pengunjung WAJIB membayar Rp 25.000/orang yang nantinya akan ditukar dengan 1 porsi makanan + 1 cup air mineral + 1 minuman hangat atau dingin. Anak-anak tidak perlu membayar Rp 25.000. Akan tetapi, kalau mau pesan makanan dan minuman harus beli lagi.

Di Warung Moko sudah dituliskan peringatan kalau tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar. Baiklah, saya pesan kentang goreng dan sosis untuk anak-anak. Suami pesan bihun goreng dan saya tentunya mau mengenang rasa pisang goreng keju khas Warung Moko.

Kami memilih tempat duduk dan mulai memainkan tokoh-tokoh mainan yang tersembunyi di dalam surprise egg tadi. Akan tetapi namanya perut lapar memang nggak bisa bohong. Anak-anak udah mulai kelaperan dan makanan kami lama banget tak kunjung datang.

Cuma ada 2 gelas air mineral dan 2 gelas es teh manis yang duluan diantarkan si Akang ke meja kami. Dari pada kelaparan, diam-diam saya keluarkan Oreo dari tas untuk dimakan anak-anak sambil berharap kentang dan sosis gorengnya segera datang.

Mungkin 20-30 menit berlalu, akhirnya datang juga sepiring bihun goreng. “Hah? Kok malah bihun duluan yang datang?”, tanya saya penasaran.

“Iya bu. Kentang gorengnya nunggu kering dulu”, jawab pelayan dengan muka polos.

Saya bengong mendengar penjelasan tersebut. Belum sempat berkomentar, pelayannya udah buru-buru balik badan dan pergi. 10 -15 menit kemudian menu lain belum juga datang. Perut keroncongan, bikin otak buntu kehabisan ide mau mengalihkan kegelisahan anak-anak seperti apa.

Beda saat kulineran di restoran bakso sapi. Cara mengolah dan menyajikannya sangat cepat. Jauh berbeda dengan saat menunggu pesanan makanan di Warung Moko.

Nunggu kentang kering bagaimana ya maksud si pelayan tadi? Kalau maksudnya, si kentang nunggu kering itu ditiriskan karena baru diangkat dari penggorengan tidak masalah. Akan tetapi, lama amat nunggu keringnya. Memang sebanyak apa yang digoreng sampai perlu nunggu selama itu sampai benar-benar kering.

Akhirnya yang datang benar-benar berupa kentang tiris (*red bahasa sunda: tiris = dingin). Berhubung sudah lapar, tetap kami makan juga bersama anak-anak.

 

Untungnya kekesalan saya agak terobati. Rasa pisang goreng hangat yang ditaburi palm sugar dan kejunya sesuai harapan. Enak banget rasanya, memunculkan kembali memori 8 tahun silam.

aneka jajanan di warung moko puncak bintang - catatan bunda

Ada tips sederhana buat anda yang mau jalan-jalan ke Puncak Bintang Bandung. Sebaiknya, saat berkunjung jangan dalam kondisi yang terlalu lapar. Jika memungkinkan, anda bisa membawa bekal makanan atau cemilan sendiri dari rumah. Saat terasa lapar, anda bisa makan saat jalan-jalan di dalam area Puncak Bintang Bandung.

Selesai menikmati jajanan ringan di Warung Moko, baru kami pulang kembali ke rumah. Perjalanan pulang jauh lebih santai, karena melewati jalan menurun. Berbeda dengan saat berangkat tadi pagi.

Di tengah perjalanan, anak bungsu kami sampai tertidur. Sepertinya kelelahan, setelah beraktivitas hiking di area Puncak Bintang Bandung.

Sampai di sini dulu cerita jalan-jalan kami ke Puncak Bintang Bandung. Salah satu rekomendasi tujuan wisata di samping sekedar jalan-jalan di mall saja.

Semoga memberikan informasi bermanfaat bagi para pembaca. Jangan lupa mampir ke obyek wisata Puncak Bintang Bandung, jika anda sedang liburan ke Bandung. Anda tidak akan menyesal dengan pemandangan alam yang tersaji di lokasi ini.

Sampai ketemu di cerita petualangan keluarga berikutnya ya 😀

(Visited 58 times, 1 visits today)

2 Comments

  1. wah memang abndung banyak wisata ayng asyik ya, selain kulinernya. kapan bisa ke sini ya, secara kl ke bandung ngedon saja di rumah, malas dg kemacetannya

    1. ke sini aja mba.. bebas macet, lokasinya jauh dari keramaian.. bisa menikmati sejuk dan tenangnya suasana Puncak Bintang 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe Channel Youtube

Copyright 2017 Blog Catatan Bunda