Pengalaman Transit di Kuala Lumpur, Cerita Ringan dari Traveler Pemula

Halo semuanya, kali ini kami mau sharing cerita pengalaman transit di Kuala Lumpur. Emang lagi mau pergi ke mana sampai harus mampir di Kuala Lumpur? Ceritanya berlangsung pada awal Januari 2020. Saya bersama suami pergi umroh ke tanah suci. Nah, dalam rute perjalanannya, meeting point bersama rombongan yang lain ialah di Kuala Lumpur.

Cerita pengalaman umrohnya seperti apa? Kami akan coba ceritakan di kesempatan lainnya ya. Jadi, stay tune terus di Catatan Bunda. Sementara itu, teman-teman bisa membaca cerita kami saat berangkat umroh bersama keluarga beberapa tahun yang lalu.

Untuk mengawali rangkaian ceritanya, kami akan mencoba cerita pengalaman transit di Kuala Lumpur. Walaupun terhitung momen transitnya sangat singkat, selalu ada yang bisa diceritakan. Mudah-mudahan kisah singkat kali ini bisa memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pembaca. Selamat menikmati cerita lengkapnya 😀

berangkat dari bandung menggunakan air asia - catatan bunda

Pengalaman Transit di Kuala Lumpur – Berburu Tiket Pesawat

Sebelum berangkat, kami berburu tiket penerbangannya terlebih dahulu. Saat ini, booking tiket penerbangan melalui aplikasi sudah sangat mudah. Kami yakin para pembaca pun demikian. Proses berburu tiket dimulai di aplikasi Traveloka. Rute penerbangan menuju Kuala Lumpur yang tersedia ialah Jakarta – Kuala Lumpur. Kami simpan dulu informasi tersebut.

Selanjutnya, kami berdua berpikir, jika ada penerbangan yang rutenya langsung dari Bandung tentu sangat bagus. Di samping letak bandara yang masih satu kota, kami bisa menghemat waktu dan tenaga saat keberangkatan. Oleh sebab itu, kami coba berburu di aplikasi yang lain. Kali ini, pilihan kami jatuh di aplikasi milik salah satu maskapai.

Alhamdulillah, ternyata keinginan kami berdua dikabulkan oleh Allah SWT. Masih ada rute penerbangan langsung dari Bandung ke Kuala Lumpur. Asal bandara pun sesuai keinginan. Seperti kita ketahui, kini ada bandara baru di Jawa Barat. Namanya ialah Bandara Internasional Kertajati di Majalengka. Untuk menuju ke bandara tersebut, penumpang membutuhkan waktu perjalanan dari Bandung kurang lebih 2,5 hingga 3 jam. Bandara baru ini dimaksudkan untuk menggantikan Bandara Husein Sastranegara yang berada di kota Bandung.

Syukurlah, penerbangan menuju Kuala Lumpur masih bisa dilayani di Bandara Husein Sastranegara di Bandung. Berapa harga tiketnya? Estimasi kasarnya, biaya tiket pesawat Bandung – Kuala Lumpur PP sebesar Rp 1.800.000 – Rp 2.000.000 per orang. Jika dibandingkan dengan penerbangan dari Jakarta, harganya memang lebih tinggi. Akan tetapi, kami memutuskan untuk tetap terbang dari Bandung saja.

Mengapa demikian? Ada beberapa pertimbangan yang kami gunakan. Pertama, selisih harga tiket untuk terbang dari Jakarta dan Bandung tidak terlalu jauh. Biaya tiket rute Jakarta – Kuala Lumpur PP memang lebih murah. Akan tetapi, masih ada biaya tambahan yang harus kami keluarkan. Biaya tersebut ialah biaya perjalanan menggunakan travel dari Bandung menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Jika dihitung perjalanan berangkat dan pulang kembali, maka biaya totalnya hamper mirip dengan tiket rute Bandung – Kuala Lumpur PP.

Kedua, efisiensi waktu untuk berangkat. Jika kami terbang dari Jakarta, maka kami harus berangkat dari Bandung menuju Bandara Soekarno Hatta jauh lebih awal. Paling telat, 6 sampai 8 jam sebelum pesawat lepas landas, kami sudah harus berangkat dari Bandung. Bandingkan jika kami terbang dari Bandara Husein Sastranegara Bandung. Jika jalanan Bandung sedang bersahabat, kami bisa tiba di bandara dalam waktu 30 menit saja. Jauh sekali bedanya, kan?! 😀

Ketiga, tentunya efisiensi tenaga. Dengan terbang dari Bandung, kami menghemat banyak sekali tenaga jika dibandingkan terbang dari Bandara Soekarno Hatta. Persiapan 6 – 8 jam sebelum keberangkatan itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, lho. Lebih baik kami simpan tenaga dengan beristirahat dan kumpul dengan keluarga di rumah. Setelah itu, kami bisa menuju ke Bandara Husein Sastranegara 2 jam sebelum keberangkatan.

Tiga pertimbangan tersebut sudah cukup bagi kami untuk menentukan pilihan rute yang akan diambil. Yuk, kita sambung ke cerita berikutnya dalam pengalaman transit di Kuala Lumpur.

pengalaman transit di kuala lumpur 2020 - catatan bunda

Cerita Transit di Kuala Lumpur Saat Berangkat Umroh

Tiba saatnya hari keberangkatan kami berdua. Perjalanan dari rumah menuju Bandara Husein Sastranegara sangat singkat dan lancar. Kurang dari 1 jam, kami sudah tiba di bandara. Kami berdua pun masuk ke terminal keberangkatan internasional. Paspor dan boarding pass menjadi hal wajib yang harus dibawa selama perjalanan.

Proses check in di counter berjalan lancar. Kami mengantri dengan tertib bersama penumpang yang lain. Koper berisi barang bawaan umroh yang kami bawa sudah didaftarkan ke dalam bagasi pesawat. Masih ada waktu untuk bersantai di ruang tunggu Bandara Husein.

Tidak lama, para penumpang dipanggil untuk masuk ke pesawat. Penerbangan dari Bandung menuju Kuala Lumpur memakan waktu kurang lebih 2 jam 15 menit. Pagi itu cuaca sangat cerah. Alhamdulillah penerbangan kami menuju Kuala Lumpur lancar dan terasa menyenangkan.

Pesawat kami akhirnya mendarat di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA 2). Pengalaman transit di Kuala Lumpur akhirnya dimulai. Titik pertemuan kami dengan rombongan umroh yang lainnya ialah di KLIA 1, dimana terminal keberangkatan internasionalnya berada. Turun dari pesawat, kami membawa tas ransel yang kami bawa masuk ke kabin. Sebelum bisa menuju ke KLIA 1, kami h arus melalui proses imigrasi terlebih dahulu. Cukup ikuti saja panduan yang berada di dalam gedung terminal KLIA2, kami berdua bisa tiba di loket imigrasi.

tiba di bandara kuala lumpur 2020 - catatan bunda

Loket Imigrasi di Bandara Kuala Lumpur

Loket imigrasi di KLIA 2 dibagi menjadi dua antrian. Antrian pertama untuk warga dengan paspor Malaysia. Sedangkan antrian kedua ialah untuk warga asing dengan paspor non-Malaysia. Saat kami datang, antrian di imigrasi lumayan panjang. Jadi, kami nikmati saja prosesnya.

Tidak ada yang perlu dicemaskan saat melewati loket imigrasi di KLIA 2. Cukup siapkan paspor saja untuk diproses oleh petugas imigrasi Malaysia. Selain itu, kami juga menyiapkan boarding pass pesawat yang kami naiki sebelumnya. Ketika kami melalui loket imigrasi, tidak ada pertanyaan aneh-aneh dari petugas imigrasi yang ditujukan pada kami berdua.

Proses yang dilakukan di area loket imigrasi juga sangat sederhana. Dimulai dari penyerahan paspor kepada petugas, lalu pengambilan foto wajah kami oleh petugas imigrasi. Proses berikutnya ialah perekaman sidik jari di mesin khusus dan disambung oleh tahap validasi atau pemberian stempel imigrasi Malaysia di buku paspor Indonesia yang kami miliki.

Selesai dari loket imigrasi, kami meneruskan perjalanan. Tujuan berikutnya ialah tempat pengambilan bagasi. Saya mengambil troli, sementara suami menunggu koper bawaan kami berdua di conveyor belt. Selesai mengambil bagasi, kami langsung keluar dari gedung terminal kedatangan KLIA 2.

pengalaman transit di kuala lumpur beli tiket KLIA express - catatan bunda

Moda Transportasi di Area Bandara

Pengalaman transit di Kuala Lumpur Tujuan kami selanjutnya ialah menuju ke terminal keberangkatan internasional di KLIA 1. Untuk menuju ke sana, setidaknya ada dua cara yang kami ketahui. Cara pertama ialah naik bus yang ada di terminal. Sedangkan cara kedua ialah naik kereta, yang diberi nama KLIA Express.

Kami berdua memilih cara kedua, yaitu menuju ke KLIA 1 menggunakan KLIA Express. Sebelum bisa menikmati KLIA Express, kami harus membeli tiketnya terlebih dahulu. Loket tiket KLIA Express berada di lantai 1 gedung terminal KLIA 2. Harga tiketnya terbilang sangat murah, hanya 2 Ringgit Malaysia per orang. Selain itu, anak-anak di bawah usia 4 tahun, masih bisa menikmati KLIA Express secara gratis.

Jujur saja, pengalaman transit di Kuala Lumpur ini lumayan mengesankan menurut kami. Fasilitasnya sangat memudahkan untuk penumpang. Apalagi seperti kami berdua yang membawa bawaan berupa koper besar. Saat naik KLIA Express pun sangat mudah.

Tidak perlu khawatir soal jadwal, KLIA Express terus beroperasi setiap hari. Cukup menunggu saja beberapa saat untuk naik KLIA Express berikutnya. Sebagai informasi, troli bandara tidak boleh dibawa masuk ke dalam KLIA Express ya. Hanya barang bawaan saja yang diperkenankan masuk.

KLIA Express yang tersedia sangat nyaman dan bersih. Ada pendingin ruangan di dalamnya. Jika kosong, penumpang dipersilakan duduk di kursi yang tersedia. Perjalanan dari KLIA 2 menuju ke KLIA 1 sangat cepat. Estimasi perjalanan hanya membutuhkan waktu 2 hingga 5 menit saja. Jadi, baru saja duduk di kursi KLIA Express dan menikmati pemandangan, kami sudah harus berdiri lagi karena sudah sampai ke tujuan 😀

Tiba juga kami di KLIA 1. Troli bandara menjadi hal pertama yang kami cari. Tidak lain tujuannya untuk menaikkan koper bawaan kami di atasnya. Masih ada banyak waktu sebelum pesawat kami terbang ke Jeddah. Jadi, kami tidak buru-buru saat jalan kaki menembus megahnya KLIA 1. Terminal keberangkatan internasional terletak di lantai 5 gedung KLIA 1. Kami hanya perlu mencari lift untuk membawa barang bawaan ke terminal keberangkatan internasional. Pesawat yang akan membawa kami ke Jeddah akan berangkat sekitar pukul 19.30 waktu setempat. Sedangkan kami sudah siap dan berada di terminal internasional sejak pukul 14.00 waktu setempat.

Lalu, bagaimana jika ingin makan di KLIA 1? Jangan khawatir, banyak sekali tempat makan yang tersedia. Dari hasil pengamatan kami, ada beberapa lokasi yang sempat kami temukan. Area foodcourt yang bisa anda nikmati berada di lantai 2 dan lantai 4. Pilihan menu makanan yang ada juga sangat bervariasi. Mulai dari makanan khas Melayu hingga makanan dengan tema Eropa juga ada. Anda bisa memilih sesuai selera. Rentang harga makanannya mulai dari belasan ringgit hingga dua puluhan ringgit Malaysia.

Pada awalnya, kami berdua juga ingin jajan makanan di area foodcourt KLIA 1. Akan tetapi, kami sudah disiapkan bekal makanan dari rumah. Jadi, saat transit di Kuala Lumpur, kami cukup menghabiskan bekal makanan yang ada saja. Kami hanya perlu membeli air mineral dalam botol saja. Sangat menghemat pengeluaran kami berdua ketika itu.

Selesai makan, kami istirahat sebentar sambil berkenalan dengan rombongan yang baru datang. Selanjutnya, kami mencari mushola untuk menjalankan sholat. Mushola di KLIA 1 berada di lantai 5. Satu lantai dengan terminal keberangkatan internasional. Kami tinggal berjalan dengan mengikuti papan petunjuk yang sudah tersedia.

Jangan khawatir, mushola di KLIA 1 ini ukurannya lumayan besar. Dengan demikian, bisa menampung jamaah dalam jumlah yang cukup banyak. Sambil berjalan dari terminal internasional ke lokasi mushola, kami bisa menikmati dan melihat apa saja yang ada di sekeliling. Mulai dari restoran, toko brand ternama, hingga mesin ATM.

Pengalaman transit di Kuala Lumpur kali ini, kami memang sengaja tidak mampir untuk berkeliling di Kuala Lumpur. Walaupun teman-teman di rombongan banyak yang datang sehari sebelumnya untuk jalan-jalan keliling Kuala Lumpur. Saat itu, kami fokus untuk cepat tiba di lokasi meeting point dengan rileks dan tidak terburu-buru. Selain itu, pikiran kami berdua memang fokus pada tujuan untuk beribadah umroh saja. Ga kepikiran untuk jalan-jalan 😀

Rencana jalan-jalannya disimpan dulu untuk sementara waktu. Kami akan datang kembali dengan membawa anak-anak beserta orangtua untuk jalan-jalan di Kuala Lumpur. Mohon bantu doakan ya, teman-teman!

Demikian cerita ringan kami saat transit di Malaysia. Anggap saja kisah ini merupakan bagian yang pertama. Akan ada petualangan di KLIA bagian yang kedua. Nantikan pada cerita kami selanjutya ya. Terimakasih banyak sudah menyimak. Semoga cerita kali ini ada manfaatnya bagi para pembaca sekalian 😀

(Visited 89 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *