Mendidik anak menabung merupakan satu tantangan tersendiri bagi orang tua. Termasuk bagi saya dan suami. Harus banyak akal dan lebih cerdik dari anak-anak supaya kebiasaan menabung bisa tetap berjalan.

Bunda, masa kecil suka punya celengan gak sih? Kalau denger kata celengan, yang diingat apa? Saya sendiri langsung teringat lagu anak yang satu ini:

Bing Beng Bang
Yok Kita Ke Bank
Bang Bing Bung
Yok Kita Nabung
Tang Ting Tung Hey
Jangan Di Hitung
Tau Tau Nanti Kita Dapat Untung

Judul lagunya Menabung. Satu lagu anak ciptaan Titik Puspa yang dinyanyikan oleh Saskia dan Geovani.

Waktu kecil, boro-boro saya sempat pergi ke Bank, apalagi sampai mendapatkan untung seperti lirik lagu anak di atas. Celengan baru terisi setengah jalan, udah buru-buru minta dibongkar. Orangtua saya tidak mau membantu untuk bongkar celengan, mau buka sendiri juga tidak bisa.

Suatu hari, saya memergoki Abang saya yang lagi berbaring di tempat tidur sambil memegang celengan saya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang pinset. Pelan tapi pasti seperti mengambil boneka di mesin dingdong, satu-persatu koin berjatuhan dari celengan saya.

Hah!!! Itu celengan saya !! akhirnya saya tersadar dan spontan berteriak manggil Mama. Abang cuma cengegesan dan cepat-cepat meraup semua koin yang ada berhasil dia keluarkan, lalu kabur meninggalkan saya yang masih berteriak-teriak.

Pantesan tabungan lama banget penuhnya, ternyata ada rajin ngorekin itu celengan. Tiap kali kisah ini saya ceritakan di depan Abang, ketawa cengegesan dan muka tengilnya persis sama seperti kejadian itu. Kalau bukan abang sendiri, udah saya karungin dan jual ke tukang loak itu orang.

Sejak kejadian itu, celengan saya tidak pernah penuh dan tidak pernah dibongkar. Alih-alih tambah rajin menabung, saya pun jadi berlatih ngorekin celengan kalau kepepet mau jajan hihihi 😀

Alhamdulillah, anak-anak saya termasuk yang sabar, tekun, dan mau diberi pengertian. Mendidik anak menabung jadi lebih mudah kami lakukan. Mungkin sifat itu warisan gen Ayahnya ehem 😀

manfaat menabung sejak usia muda - catatan bunda

Mendidik Anak Menabung Sejak Usia Dini

Mirza sudah beberapa kali memecah tabungannya. Kami mendidik anak menabung sejak usia dini. Celengan yang pertama hasil tabungannya sekitar 750ribu. Waktunya memang agak lama sampai akhirnya bisa penuh. Mirza pun terlihat menikmati kegiatan menabung yang dilakukannya secara rutin.

Kalau seperti ini, lirik lagu Menabung ciptaan Titik Puspa itu ada benarnya. Uang hasil tabungan kami belikan Logam Mulia pertama untuk Mirza. Walaupun Ayahnya harus nambahin sedikit supaya Logam Mulia yang dibeli tidak terlalu kecil.

Celengan kedua, kakak mulai mengisi celengan plastik lagi sekitar bulan Oktober 2016. Kali ini menabung bersama dengan adik. Adiknya juga punya celengan plastik dengan ukuran yang lebih kecil.

Sumber Uang Tabungan Anak

Seperti saya kecil dulu, keinginan membongkar celengan sering banget kakak sampaikan ke saya. Bedanya, supaya cepat terisi penuh, dia rajin sekali mengisi celengan plastiknya. Uangnya dari mana saja?

Kalau kebetulan saya dan suami punya uang receh dari kembalian belanja, jajan, atau lainnya sengaja kami berikan ke anak-anak untuk dimasukkan ke celengan. Kakak dan adik pun semangat sekali untuk menabung uang yang kami bagikan ke celengan masing-masing. Kami bebaskan mereka berpikir, sebagai satu strategi mendidik anak menabung. Mereka akan berpikir, bagaimana ya caranya supaya celengan plastiknya bisa cepat penuh?

Uang di mobil yang seharusnya untuk parkir, juga sering sekali disapu bersih oleh kakak dan adik. Sampai tiba waktunya mau membayar parkir saat menginap di hotel Asmila misalnya, kami sampai kebingungan mencari uang recehnya. Kami sampai harus merogoh dalam-dalam ke dompet, tas, selipan apa aja deh. Berharap bisa menemukan uang recehan yang terselip.

Satu waktu, Nenek datang dari Medan. Nah, ini jadi moment Mirza bisa dapat banyak upah. Upah mau salim tangan nenek, upah mau cium pipi nenek, upah mau nemenin nenek dan kegiatan lainnya yang bikin Nenek senang. Rasanya saya jadi pengen ikut ngantri dapat upah hehehe 😀

Belum lagi jika kakak dan adik mendapat hadiah dari Om dan Tantenya. Semuanya langsung dimasukkan ke tabungan. Usia celengannya sudah hampir 2 tahun, jadi sudah 2 kali THR lebaran dari Om, Tante, dan saudara-saudara lainnya masuk ke tabungan masing-masing.

Saat menginjak usia lima tahun, kakak tiba-tiba menyatakan berani untuk khitan. Ceritanya sudah sempat kami bagikan pada artikel sebelumnya di blog Catatan Bunda. Anda sudah baca?

Singkat cerita, kakak menjalani proses sunat di salah satu klinik khitan yang ada di Bandung. Dari event tersebut, mengalir banyak hadiah untuk kakak. Mulai uang angpao dari Uwak, Pakde, Om, Tante, Eyang Kung, Eyang Putri, dan Nenek pun datang silih berganti. Semuanya dia masukkan ke celengan.

Bahkan uang belanja yang saya taruh tidak pada tempatnya juga di hak miliki dan masuk ke dalam celengannya.

memahami makna menabung dan nilai uang - catatan bunda

Belajar Metode Marshmallow Saat Mendidik Anak Menabung

Kok bisa begitu? Memang Mirza nggak kepengen jajan? Namanya anak-anak, tentu suka dengan aneka jajanan.

Kakak tetap minta jajan, tetapi kami batasi pada saat tertentu saja. Tidak setiap minta jajan, selalu dikabulkan. Biasanya ketika ada keperluan ke supermarket atau pas saya belanja bulanan saja. Jadi, kami berdua melatih anak-anak supaya tidak selalu dikabulkan permintaannya untuk jajan. Berlatih untuk mengendalikan dan berhemat. Jika tidak bisa dikendalikan, maka program mendidik anak menabung bisa gagal total.

Berbeda dengan cerita anak-anak di kampung sekitar perumahan kami. Banyak faktor yang menyebabkan para orang tua sulit mengendalikan anak-anak untuk jajan, apalagi mendidik anak menabung. Permintaannya selalu dikabulkan.

Anak-anak memang jarang beli jajanan warung yang ada di kampung dekat perumahan. Oleh sebab itu, ketika ada uang kembalian setelah beli jajan bersama saya atau suami, pasti ditagih atau buru-buru dimasukkan ke kantong buat makanan celengannya.

Kalau Adek Chayra gimana?

Dia sih belum terlalu ngerti, kurang lebih sumber uangnya sama persis seperti kakaknya. Akan tetapi, karena belum paham betul, kartu Boboi Boy hadiah dari jajanan Choki-Choki pun dia masukkan ke dalam celengan plastik miliknya 😀

Kami sedang mencoba mempraktekkan satu metode pembelajaran untuk membentuk karakter anak-anak. Dalam praktek kali ini, kami menggunakan studi kasus dalam hal mendidik anak menabung. Metode ini dikenal dengan nama Metode Marshmallow.

Metode marshmallow ialah satu metode untuk meneliti karakter seseorang. Dalam percobaan awalnya, anak-anak dikumpulkan di dalam satu ruangan. Setelah itu, tiap anak diberi permen marshmallow.

Anak-anak tersebut boleh memakan permen marshmallow yang sudah disediakan. Akan tetapi, setelah selesai makan, mereka tidak akan diberikan permen tambahan.

Jika anak-anak sanggup untuk menunda untuk makan permen pertama selama beberapa menit, maka ada hadiah tambahan berupa permen marshmallow yang kedua. Jadi, anak yang berhasil akan memperoleh dua buah permen di akhir eksperimen. Saat rangkaian percobaan sudah selesai, kehidupan semua anak yang ikut serta akan dimonitor dan diikuti hingga anak tersebut tumbuh dewasa.

Hasilnya sungguh sangat berbeda. Anak-anak yang tidak sanggup untuk menunggu dan langsung memakan permen marshmallow yang pertama, kehidupannya tidak ada yang berhasil dan sukses. Anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi orang yang cepat putus asa, tidak sabar, dan suka mencari jalan pintas untuk mencapai semua tujuan dalam hidupnya.

Berbeda halnya dengan hasil pada kelompok anak yang kedua. Pada kelompok anak yang sanggup bersabar dan menunggu, kehidupannya jauh lebih sukses dan berhasil dibandingkan anak pada kelompok sebelumnya.

Dari percobaan ini, dapat ditarik kesimpulan yang bermanfaat bagi kehidupan. Bagi orang tua, mendidik anak menabung merupakan satu hal yang harus dilatih pada anak. Untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, setiap orang harus mampu melalui yang namanya menunda untuk bersenang-senang di awal, harus berjuang di awal, harus berkorban di depan” untuk mendapatkan hadiah yang lebih besar di akhir nanti.

 

Manfaat Mendidik Anak Menabung Sejak Usia Dini

Dalam perjalanan mendidik anak menabung, tentu banyak tantangan yang dihadapi. Dengan penjelasan yang tepat, anak-anak bisa memahami makna dan pembelajaran yang ada dibalik kegiatan menabung. Banyak manfaat yang bisa didapatkan saat anak-anak berlatih menabung.

Beberapa manfaat tersebut diantaranya ialah sebagai berikut:

  • Menghargai arti uang
  • Melatih kesabaran anak
  • Berlatih disiplin
  • Berlatih untuk hidup sederhana
  • Melatih anak mengatur keuangan

Dengan mendidik anak menabung, kami bisa memberikan penjelasan pada anak-anak. Terutama pada anak yang sulung. Kakak sudah bisa mulai diajak bertukar pikiran.

Kadang-kadang memang muncul keinginan tinggi pada anak untuk jajan. Lalu, kami biasa bawa anak untuk ngobrol santai, sambil mengingatkan tujuan untuk menabung, reward yang menanti di akhir nanti, dan impian-impian kakak lainnya. Tak lama setelah itu, biasanya keinginan untuk jajan bisa diredam kembali.

mendidik anak menabung sejak dini - catatan bunda

Membuka dan Menghitung Hasil Tabungan

Sabar dan rajin mendidik anak menabung, tabungan kedua anak kami penuh juga. Pada akhir bulan Juni 2018 kami memutuskan untuk membongkar celengannya.

Ekspresi rasa senang dari kakak dan adek pun tidak terbendung ketika tabungan yang berisi campuran uang logam dan kertas dituang. Teriakan bahagia pun berderai seiring gemerincing koin-koin bertaburan.

Buat saya, PR selanjutnya adalah menghitung uang hasil tabungannya.

Pengalaman berhitung kali ini, tidak jauh beda dengan bongkar celengan pertama kali. Apa itu? Bau uang receh yang wah, jika kelamaan dihirup bisa membuat kepala pusing.

Untungnya, kali ini Mirza sudah bisa membantu memilah uang recehnya sesuai nominal pecahannya. Lumayan, dia jadi belajar menyortir, mengelompokkan, dan akhirnya hafal mana uang 50, 100, 200, 500, dan 1.000 rupiah. Uang kertas menjadi bagian eyang putri yang membantu menghitung sampai tuntas.

Pelajaran lainnya yaitu membandingkan, dengan jumlah yang sama antara selembar uang kertas Rp 100.000,- dengan sekantong uang 500.

Walaupun hanya selembar, uang Rp 100.000,- lebih mudah dibawa dan tidak bau seperti uang receh. Tujuannya memberi gambaran untuk Mirza, supaya termotivasi untuk mendapatkan uang lebih banyak. Tentunya dengan cara-cara yang baik, sebagai contoh dia pernah menjual prakarya di sekolah.

Setelah berhari-hari menghitung, akhirnya selesai juga. Bukan karena banyaknya uang yang ditabung. Akan tetapi, saya menghindari pusing karena bau uang koin hehehe.. Nominal tabungan anak-anak kali ini berjumlah 3 juta lebih yippiee.. Alhamdulillah, pecah rekor dari hasil tabungan yang pertama.

Rencananya, hasil tabungan ini akan kami tukarkan dengan 2 keping logam mulia Antam. Ini jadi logam mulia yang kedua buat Mirza, dan yang pertama buat Chayra. Demikian cerita pengalaman sederhana kami saat mendidik anak menabung. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Bagaimana bunda? Semoga ada inspirasi metode mendidik anak menabung di rumah ya. Mau coba menabung ala Mirza dan Chayra? 😀

(Visited 133 times, 1 visits today)