Free Update

Nikmati update cerita Catatan Bunda langsung di smartphone Anda. GRATIS ^_^

Menabung di Bank Sampah, Ubah Sampah Menjadi Pundi Rupiah

Seperti apa kegiatan menabung di bank sampah? Apa untungnya? Ikuti terus yuk kisah saya kali ini.

Salah satu kenangan masa kecil saya itu suka ngumpulin botol dan kaleng kosong, buat dijual ke tukang loak. Saya terinspirasi dari tetangga, jadi saya tertarik buat cari uang dengan cara itu. Dulu dapat 50 perak atau minimal bisa beli 2 permen hasil usaha sendiri aja udah seneng banget.

Tapi satu ketika Mama saya merasa kehilangan botol-botol dan kaleng bekas yang dia simpan. Usut punya usut, ketauanlah saya yang menjual barang-barang itu. Ternyata Mama memang sengaja menyimpan botol bekas buat dipakai ngisi air dan didinginkan di lemari es, sedangkan kaleng buat nyimpan kue-kue. Jaman dulu belum ada Tupperware sih hahahaha πŸ˜€

Sejak kejadian itu, hobi jual-jual barang bekas saya terhambat.

Mulai lagi ketika beres skripsi. Waah, berasa dapat durian runtuh karena dapat hasil jual kertas arsip revisi skripsi yang tak berujung. Padahal hasilnya hanya cuma semangkok es durian, Alhamdulillah πŸ˜€

Orientasi saya dulu jual barang bekas karena kepengen cara cepat dapat uang. Sekarang, sudah berubah. Saya mulai membiasakan diri untuk memilah sampah untuk menjaga lingkungan, walaupun belum bisa 100% memilah Organik dan Anorganik.

Kebiasaan ini didukung dengan kekompakan warga komplek tempat saya tinggal.

Sekarang di Komplek saya ada kegiatan rutin menabung di Bank Sampah. Komplek perumahan saya bekerja sama dengan LSM Hijau Lestari. Jadi ternyata Bank bukan cuma konvensional atau syariah, tapi Sampah juga ada Bank-nya.

Tenang saja, para nasabah tidak perlu repot ganti kartu ATM seperti pada dunia perbankan konvensional πŸ˜€

kegiatan menabung di bank sampah komplek bojongkoneng makmur bandung - catatan bunda

Menabung di Bank Sampah Hijau Lestari

Tujuan Hijau Lestari membuat Bank Sampah ini adalah untuk membantu pemerintah kota Bandung mengatasi volume sampah yang sangat besar. Seperti yang kita ketahui, permasalahan sampah ini sudah umum terjadi. Terutama bagi anda yang tinggal di perkotaan.

Tentunya akan berdampak pada kelestarian alam. Minimal kita akan merasa tidak nyaman (baca: jijik) saat melihat ada tumpukan sampah.

Kegiatan menabung di bank sampah ini menjadi wadah dan sarana untuk mengedukasi masyarakat dalam hal memilah sampah. Selain itu, kegiatan ini membuat masyarakat untuk lebih peduli dengan lingkungan dan menjaga kebersihan. Walaupun belum bisa berpartisipasi di lingkup besar, mulailah dulu di lingkup yang paling kecil, yaitu lingkup keluarga.

Unit Bank Sampah Hijau Lestari sudah cukup banyak tersebar. Bermula dari sampah rumah tangga, dan sekarang sudah mulai dibuka di berbagai sekolah serta dibuka juga di terminal Leuwi Panjang Bandung.

Pengertian dan Konsep Bank Sampah

Bank Sampah secara garis besar hampir sama dengan Bank pada umumnya dalam hal menabung. Seperti apa konsep pengelolaan bank sampah?

Bedanya dengan bank konvensional ialah “jenis tabungan” yang disetorkan. Setoran ke bank konvensional berupa uang. Sedangkan konsep bank sampah jauh berbeda. Jenis tabungan di bank sampah adalah sampah Anorganik yang sudah dipilah-pilah. Sampah tersebut akan dinilai Rupiahnya, kemudian uangnya ditabung dan juga bisa diambil sewaktu-waktu.

Hasil dari pengumpulan sampah ini akan dijemput oleh pihak hijau lestari dengan menggunakan truk colt. Penyetor atau nasabah adalah warga yang tinggal di sekitar lokasi bank serta mendapat buku tabungan seperti menabung di bank pada umumnya. Hanya kali ini ceritanya ialah menabung di bank sampah.

Konsep bank sampah ini dikelola oleh petugas sukarelawan di komplek perumahan. Saya dan ibu-ibu lainnya, selain jadi petugas juga menabung di bank sampah dan menjadi nasabahnya.

Barang yang Laku Saat Menabung di Bank Sampah

Sampah Anorganik yang diterima di Bank Sampah terdiri dari beberapa kategori. Tidak semua jenis sampah bisa ditampung dan diterima di Bank Sampah.

Berikut ini beberapa jenis sampah yang paling sering kami terima saat menabung di Bank Sampah:

  1. Kertas, terdiri dari:

Arsip (kertas putih atau HVS, kondisinya sudah terpotong-potong juga diterima)

Duplex (Karton atau kertas tebal, biasanya banyak untuk bungkus kemasan snack dan sampul buku)

Buram (kertas tipis seperti kertas lembaran nota)

  1. Besi
  2. Alumunium
  3. Emberan
  4. Kerasan
  5. Aro
  6. LD Galon (tutup air kemasan gallon)
  7. PE (plastik bening)
  8. Kaleng
  9. Dll (masih banyak lagi tapi saya lupa hehehe..)

Rata-rata yang laku di tukang loak, itu pasti diterima oleh Bank Sampah. Setau saya, jenis kertas duplex itu tidak diterima oleh tukang loak. Akan tetapi, jenis duplex itu laku di Bank Sampah walaupun harganya murah sekali.

Tentunya tujuan utama ikut menabung di bank sampah ini bukan karena nominal uang yang didapat. Akan tetapi, seberapa besar usaha kita untuk mengurangi sampah. Minimal bisa mengelola sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga masing-masing. Mudah-mudahan kegiatan menabung di bank sampah ini bisa berkontribusi untuk permasalahan sampah yang terjadi di kota Bandung.

Beberapa waktu yang lalu, kemasan kopi sachet jika digunting dengan rapi juga laku di Bank Sampah. Hal ini disebabkan potongan kemasan kopi tersebut akan diolah kembali menjadi kerajinan tangan. Akan tetapi, jenis sampah tersebut sekarang sudah tidak diterima lagi.

Proses Menabung di Bank Sampah

Seperti apa sih proses yang nasabah lakukan saat menjalani proses menabung di bank sampah? Berikut ini urutan sederhananya:

  1. Tiap nasabah harus sudah memilah sampah berdasarkan kategori yang telah ditentukan;
  2. Membawa sampah ke lokasi pengumpulan atau pos yang sudah ditetapkan;
  3. Sampah nasabah akan ditimbang sesuai kategori;
  4. Hasil timbangan akan di kalkulasi rupiahnya;
  5. Hasil kalkulasi direkap dan ditabung, suatu saat bisa diambil dalam bentuk uang;
  6. Setelah semua sampah nasabah ditimbang, sampah tersebut diangkut oleh pihak Hijau Lestari.

Unit Bank Sampah akan mendapat untung berupa selisih harga yang diberikan ke nasabah, dengan harga jual sampah ke pihak Hijau Lestari.

Sedangkan saya sebagai nasabah mendapatkan beberapa keuntungan. Mulai dari mengurangi sampah yang dihasilkan hingga mendapat tambahan sejumlah tabungan.

Apakah menabung di bank sampah dilakukan setiap hari? Untuk pelaksanaan di komplek perumahan saya, jadwal bank sampah sudah ditentukan. Nasabah bisa menabung di bank sampah setiap satu bulan sekali.

Dengan adanya rentang waktu tersebut, para nasabah bisa memilah sampah yang dihasilkan di rumah masing-masing. Lalu saat waktunya datang, nasabah tinggal menyetorkan tabungan sampahnya untuk ditimbang dan dinilai. Jadi waktu yang diperlukan akan lebih singkat. Bila proses memilah sampah baru dilakukan saat hari H di lokasi, maka prosesnya akan lebih lama.

DOKUMENTASI KEGIATAN MENABUNG DI BANK SAMPAH

Tips Memilah Sampah dengan Mudah

Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya memang sudah mulai memilah sampah dan menabung di bank sampah. Akan tetapi, apa yang saya lakukan sekarang belum maksimal loh. Memilah sampah yang betul itu bukan sekedar mengetahui jenis apa yang bisa dijual, lalu sampahnya dipisah.

Sebelum sah menjadi pengurus bank sampah, kami mengikuti penyuluhan terlebih dahulu. Pembicaranya bilang, kalau sampah yang dia buang perbulan hanya 1 kantong kresek sedang. Dibuang ini artinya yang diambil tukang sampah. Woow 1 kresek perbulan, sedangkan saya 1 kresek besar per hari hahahahaha πŸ˜€

Kenapa bisa sesedikit itu sampahnya?

Nah, itulah memilah sampah yang betul. Sampah Anorganik yang bisa dijual, beliau kumpulkan untuk masuk ke bank sampah. Kalau yang tidak bisa dijual, ya dibuang atau jangan beli barang yang kemasannya yang tidak bisa didaur ulang. Minimal barang tersebut tidak banyak menimbulkan sampah.

Sedangkan sampah Organik dalam bentuk sisa makanan (sampah dapur), beliau olah dengan cara dimasukkan ke dalam lubang resapan biopori. Selain itu juga dijadikan pupuk. Kebiasaan memilah sampah seperti ini sudah jagoan banget deh.

Sedangkan saya hanya memilah sampah Anorganik yang masuk daftar sampah yang laku di bank sampah. Itu perbulan volumenya sudah banyak banget.

Seperti apa cara saya saat memilih dan memisahkan sampah? Berikut ini ada beberapa tips mudah bagi anda:

  1. Menyediakan ruangan tersendiri, kebetulan ruang atas yang biasa dipakai untuk jemuran bisa diselip-selipkan untuk menyimpan β€˜tabungan’ saya.
  2. Dari awal sudah dipisahkan pakai kresek dan diberi label sesuai kategori sampahnya, misal: Arsip, PE, dan lain-lain.
  3. Kerjasama dengan semua anggota keluarga. Sampai suami saya mau buang sampah jadi takut-takut, pasti sebelum buang nanya dulu β€œMa, ini dibuang apa laku di bank sampah?”

Lalu sedikit banyak kegiatan pengelolaan bank sampah yang rutin dilakukan membuat saya dan keluarga lebih peduli. Paling gampang saat makan di restoran. Seperti saat wisata kuliner di Pekanbaru dan perlu memesan air minum kemasan dalam botol.

Sebelum mengenal bank sampah, botol kemasan selalu dibuang begitu saja. Setelah mengenal bank sampah, botol kemasan air mineral selalu saya bawa pulang. Mengapa? Karena botol air mineral termasuk salah satu tabungan untuk bank sampah πŸ˜€

Awalnya proses untuk mengumpulkan tabungan bank sampah terasa sangat sulit. Akan tetapi, setelah mulai terbiasa, maka memilih dan memisahkan sampah mulai terasa ringan.

Buktinya, bank sampah yang berjalan di komplek perumahan saya tetap bertahan sejak dimulai pada tahun 2015. Lumayan lama ya, sudah berjalan kurang lebih 3 tahun. Penuh tantangan banget saat mengelola bank sampah selama ini.

Dalam perjalanannya, tidak semua nasabah bisa bertahan untuk memilih, memisahkan, hingga mengumpulkan tabungan untuk disetorkan di bank sampah. Ada beberapa yang gugur dan berhenti. Mungkin karena kesibukan dan tidak sempat memilih sampahnya.

Saya pun bukannya tanpa halangan. Terkadang juga masih terburu-buru saat jadwal menabung dan menyetor bank sampah sudah dekat, sementara sampah belum disortir karena ada acara keluarga yang cukup lama. Misalkan beberapa waktu lalu setelah saya traveling keluarga ke Duri dan sempat mampir untuk wisata religi ke masjid raya Pekanbaru.

Demikian cerita sekilas mengenai kegiatan menabung dan pengelolaan bank sampah yang rutin dilakukan di komplek perumahan saya. Semoga kisah kali ini memberi informasi bermanfaat untuk para pembaca.

Jika ada yang ingin berdiskusi, bisa sampaikan pertanyaan seputar konsep menabung di bank sampah pada kolom komentar di bawah ini. Bila anda suka dengan informasi ini, silakan share artikel ini ke teman-teman ya. Semoga makin banyak yang terinspirasi dan tergugah untuk lebih peduli konsep menabung dan mengelola sampah.

Sampai ketemu di episode selanjutnya πŸ˜€

(Visited 826 times, 4 visits today)

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada Pertanyaan?

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda