Kunjungan ke Ngawi kali ini, Mirza dan Chayra merasakan pengalaman memancing ikan di kolam. Satu kegiatan yang sudah lama diimpikan Mirza ketika di Bandung. Aktivitas ini kami pilih sebagai cara untuk mempererat tali persaudaraan anak-anak dengan keluarga inti saya di Ngawi.

Kebetulan keluarga inti suami cukup intens berinteraksi dengan anak-anak. Hal ini dikarenakan kami masih tinggal satu kota. Tidak perlu usaha yang terencana untuk membuat anak-anak dekat dengan mereka.

Sedangkan keluarga saya berpencar antar pulau. Ibu saya tinggal di Medan, dua kakak laki-laki saya ada di Duri – Riau, dan satu-satunya kakak perempuan saya semenjak menikah langsung berdomisili di Ngawi, Jawa Timur. Tantangan lainnya adalah usia saya dan kakak-kakak yang terpaut cukup jauh, maklum saya anak ‘bonus’.

asyik bermain saat aktivitas anak memancing ikan di kolam - catatan bunda

Kenangan Masa Mahasiswa dengan Ngawi

NGAWI.. Nama kota eh kabupaten itu pertama kali saya dengan di tahun 90an. Jaman di mana untuk menerima telepon saja kami masih nebeng ke rumah tetangga. Mau menelepon keluar, kami harus pergi ke telpon umum atau wartel terdekat. Apalagi jika butuh lebih. Seperti ketika mau mencari informasi yang akurat di mbah Google seperti sekarang.

Apa sekarang juga ada yang belum tau Ngawi itu di mana? Hehehe..

Ngawi itu salah satu kabupaten kecil di Jawa Timur. Kakak ipar saya asli orang sana. Jadi sejak menikah sampai sekarang, kakak perempuan saya pun diboyong ke sana.

Saya pribadi punya kenangan yang indah dengan kota Ngawi (sebut saja kota ya).

Ketika saya kuliah di Bandung, Ngawi jadi kota berlibur saya. Selain paling dekat, biayanya juga murah apalagi untuk mahasiswa seperti saya. Bulanan dan uang kuliah masih saya terima dari kakak laki-laki saya. Jadi, jika saya gunakan untuk berlibur jauh-jauh apalagi pulang kampung, rasanya sungkan.

Kak Memed, begitu saya memanggil kakak perempuan saya itu. Orangnya nyebelin tapi ngangenin, waktu kecil kalau lagi sebel. Saya panggil dia “kue lemet”.

Usia kami beda 15 tahun, ketika saya sedang sibuk jadi Mamah Muda.. Dia lagi seneng-senengnya jadi Nenek Muda. Yoi, sekarang dia udah jadi Nenek dengan 1 orang cucu hahahahaha… (*jadi nambah bahan buat ngeledekin).

Bagaimana pun, saya sangat bersyukur masih ada yang nampung ketika liburan tiba. Tidak hanya seputar Ngawi, tapi saya pernah diajak jalan-jalan ke pantai, gua, mendaki bukit sampai akhirnya ketemu air terjun.

Ketika liburan di Ngawi, saya paling sering diajak memancing ikan di kolam. Mengapa demikian? Hal ini disebabkan kakak ipar saya, Mirza dan Chayra manggilnya Pakde Joko ialah seorang mancing mania.

Konon dia sewaktu lajang, dia pernah punya perahu buat memancing ke laut, bukan lagi memancing ikan di kolam. Akan tetapi, setelah menikah semuanya berubah. Area memancing ikan mulai lebih merapat ke daratan saja. Dari pada kalau dipertahankan untuk memancing ke laut, malah akan jadi memancing keributan dalam rumah tangga 😀

Jadi sudah tidak diragukan lagi ya kegemaran kakak ipar dengan kegiatan memancing ikan.

Tercapainya Keinginan Memancing Ikan di Kolam

Bagaimana dengan kakak Mirza? Mirza melihat orang memancing ketika menonton acara di televisi. Dari situ, berkali-kali Mirza bilang jika dia tertarik mau coba untuk memancing ikan di kolam.

Buat saya dan suami, memancing itu hal yang membosankan. Bukan cabang olahraga pilihan kami kalau hanya terduduk, termenung, sampai kail ditarik ikan. Walaupun di dekat rumah ada kolam pemancingan, tapi kegiatan memancing tidak pernah ada di dalam daftar kegiatan kami.

Jadi, bagaimana cara kami mengatasi keinginan Mirza untuk memancing? Mudah saja. Kami selalu berkata, “Nanti kalau kita sekeluarga main ke Ngawi, kakak boleh mancing sama Pakde Joko!”.

Kalimat itu betul-betul tertanam di dalam benaknya. Hingga kesempatan untuk pergi ke Ngawi pun terwujud. Dalam rangkaian jalan-jalan keluarga, kami memasukkan Ngawi sebagai salah satu tujuan. Agendanya pun jelas saat berkunjung ke sana. Apalagi jika bukan meminta Pakde Joko untuk mengajak Mirza memancing ikan di kolam.

Kegiatan mancing ini dijadikan modus untuk 2 hal,

Pertama, memang kami tidak bisa dan tidak minat untuk memancing ikan di kolam. Oleh sebab itu, aktivitas tersebut kami serahkan 100% ke Pakde Joko untuk memberikan pengalaman tersebut,

Kedua dan ini modus terpenting sebenarnya. Kami bermaksud untuk menanamkan memori manis buat Mirza. Tujuannya supaya Mirza selalu teringat:

  1. Siapa yang pertama kali mengajak dan mengajarkan dia memancing ikan di kolam;
  2. Di kolam mana dia pertama kali memancing;
  3. Bagaimana kesan pertama dia saat memancing ikan bersama Pakdenya.

Karena yang pertama biasanya selalu berkesan bukan?

Ketika tiba saatnya kami akan ke Ngawi, Mirza pun bahagia sekali karena angan-angan dia untuk memancing akan segera terwujud. Setelah kami selesai sarapan di Soto Kwali Bu Genthong, kami meneruskan perjalanan. Jarak antara Sragen dengan Ngawi sudah sangat dekat. Kurang lebih memakan waktu 1 jam perjalanan saja.

Kami mulai menyemangati Mirza bahwa sebentar lagi akan tiba di Ngawi. Bertemu pakde beserta keluarganya. Selain itu, Mirza bisa memenuhi salah satu impiannya selama ini, yaitu memancing ikan di kolam.

1 jam kemudian, kami tiba di rumah kakak. Setibanya di rumah kakak, kami tidak langsung pergi memancing. Setelah perjalanan jauh, kami sekeluarga istirahat sejenak sambil ngobrol santai. Melepas rasa kangen setelah lama tidak berjumpa karena terpisah jarak yang jauh. Asyik ngobrol, tidak terasa masuk waktu sholat Zuhur. Semuanya menjalankan ibadah sholat terlebih dahulu.

Sambil mengobrol, Pakde mempersiapkan peralatan untuk memancing ikan. Mulai dari alat pancing ikan hingga membuat umpan sendiri untuk makanan ikan.

Begitu selesai sholat, baru kami bersiap-siap untuk berangkat memancing ikan di kolam. Tidak semua yang ikut serta. Kedua orang tua kami tidak ikut, beliau ingin beristirahat saja di rumah. Rombongan yang ikut memancing pun berangkat. Untuk mencapai lokasi pemancingan, kami memerlukan waktu sekitar 45 menit dari rumah.

memancing ikan di kolam bersama pakde dan kakak sepupu - catatan bunda

Suasana Kolam Pemancingan Ikan

Kolam pemancingan yang kami datangi sangatlah sederhana. Sudah sangat cukup untuk membuat Mirza dan Chayra bersenang-senang. Untuk masuk ke kolam pancing, pengunjung tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Masuk ke dalam, kami melihat kolam pemancingan penuh dengan pengunjung. Semuanya asyik memancing ikan di kolam yang sudah disediakan.

Di dalam area kolam pemancingan, ada beberapa kolam ikan. Tiap kolam diisi dengan ikan yang berbeda. Ada kolam yang berisi ikan lele, ada kolam yang diisi ikan nila, pada kolam lain berisi ikan patin, satu kolam lagi berisi ikan tombro, dan satu kolam terakhir berisi ikan bawal. Lumayan banyak ya variasi kolam yang tersedia 😀

Tiap pemancing sudah asyik dengan posisinya masing-masing. Mereka duduk tenang dan diam menikmati sensasi menunggu umpannya disambar oleh ikan di kolam. Kami lihat, ada pemancing yang pergi sendirian. Pada sudut kolam yang lain, ada yang pergi memancing bersama keluarganya. Salah satunya ialah rombongan keluarga kami yang baru datang.

Pemancing dipersilakan memancing sepuasnya. Lalu, darimana pengelola kolam pancing mendapatkan uang? Pengelola akan menimbang tiap ikan hasil pancingan yang didapatkan oleh pengunjung. Harga ikannya sudah ditetapkan.

Sebagai contoh, ikan lele dihargai senilai Rp 23.000 per kilogram. Ikan nila dihargai dengan nilai Rp 35.000 per kilogram, ikan tombro Rp 35.000 per kilogram, ikan patin Rp 26.000 per kilogram, dan ikan bawal Rp 27.000 per kilogram.

harga ikan di kolam pemancingan - catatan bunda

Belajar Filosofi Memancing Ikan di Kolam

Sebelum memancing, Mirza mendapat pengarahan singkat dari Pakde Joko. Nasihat-nasihatnya bisa anda simak di dalam video menangkap ikan di kolam. Pastikan anda semua untuk subscribe di channel Youtube Catatan Bunda 😀

Salah satu nasihatnya ialah memasang umpan ikan di pancingan. Mirza memperhatikan cara memasang umpan dengan seksama. Setelah itu, Mirza mengikuti Pakde ke salah satu kolam ikan. Tali pancing dilemparkan ke tengah kolam ikan, selanjutnya ialah menunggu umpannya disambar oleh ikan.

Mirza dinasehati untuk sabar dan tenang menunggu. Akan tetapi, pada awalnya Mirza kesulitan untuk duduk tenang. Lama kelamaan, barulah Mirza lebih bisa menahan diri dan duduk tenang.

Dari beberapa kolam ikan yang ada, beberapa ikan terlihat sulit untuk didapat. Perlu waktu lama dan ekstra kesabaran untuk mendapatkannya. Sedangkan waktu kami terbatas, tidak terlalu banyak. Selain itu, kami menjaga mood Mirza supaya tetap senang dan tidak putus asa.

Oleh sebab itu, Pakde mengajak Mirza untuk memancing ikan di kolam lele saja. Relatif lebih mudah mendapatkan ikan di kolam lele. Persiapkan dulu umpannya, pasang di kail, kemudian lemparkan tali pancingnya ke dalam kolam.

Mirza bersama Pakde menunggu sebentar sambil duduk santai. Benar saja, tidak lama kemudian, tali pancing Mirza disambar oleh ikan. Mirza pun langsung menarik tali pancingnya hingga ke atas. Akhirnya, Mirza bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dia berhasil memancing ikan (walau belum paham nama-nama ikan), hehehe 😀

Wah, Mirza senang sekali bisa mendapatkan ikan pertamanya. Ikan yang didapatkan langsung dimasukkan ke dalam jala. Sampai akhir, Mirza dan Pakde berhasil mendapatkan 3 ekor ikan. Langsung deh, ketiga ikan tersebut ditimbang di pengelola.

Dari cerita kakak, dulu tempat memancing ini menyediakan fasilitas untuk memasak ikan di tempat. Jadi, para pengunjung bisa memancing ikan di kolam sekaligus menikmatinya langsung. Akan tetapi, sekarang sudah tidak bisa. Jadi, para pemancing hanya bisa membawa ikan mentah hasil pancingan untuk dimasak sendiri. Coba jika masih bisa makan bersama di tempat, pasti lebih seru dan berkesan bagi keluarga.

Setelah menimbang ikan dan membayar biayanya, kami pulang kembali ke rumah. Kami akan beristirahat sambil menikmati makanan enak bersama-sama di rumah. Kebetulan kakak akan mentraktir kami sekeluarga untuk mencicipi kuliner enak yang ada di Ngawi.

Malam itu, kami istirahat di rumah. Memulihkan kondisi fisik sebelum meneruskan perjalanan. Keesokan paginya, kami akan meneruskan agenda liburan keluarga ke Blitar. Seperti biasa, kami akan pergi pagi hari, ketika matahari masih tertidur.

Pada kesempatan kali ini, Mirza dan Chayra puas bisa memancing ikan di kolam. Aktivitas tersebut akan meninggalkan kesan di dalam dirinya masing-masing. Selain itu, menambah pengalaman baru berupa kegiatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

Beginilah upaya kami untuk menjaga anak-anak tetap aktif. Salah satunya ialah mengajak melakukan aktivitas yang belum pernah dicoba, seperti memancing ikan di kolam. Murah meriah, bisa berkumpul bersama keluarga, dan semuanya bahagia. Sampai ketemu lagi ya di cerita petualangan keluarga kami berikutnya 😀

(Visited 57 times, 1 visits today)