Free Update

Nikmati update cerita Catatan Bunda langsung di smartphone Anda. GRATIS ^_^

Lomba Drumband Sekolah, Perjuangan Penuh Drama yang Berbuah Piala

Pengalaman lomba drumband anak membawa kami untuk flashback ke beberapa waktu yang lalu. Terutama ketika saya akan mendaftarkan Mirza ke TK Al Irsyad Al Islamiyyah Bandung. Bagian Admin menjelaskan kegiatan anak di sekolah satu persatu. Sampai akhirnya saya tertegun ketika dibilang ada kegiatan Drumband dan anak-anak akan ikut lomba.

Di benak saya, emang bisa balita-balita itu kompak jadi 1 tim? Terutama anak saya, Mirza yang belum pernah main alat musik apapun saat itu. Di rumah ada piano sih, tapi mainan hehe. Apalagi sampai ikut lomba drumband dan bersaing dengan murid-murid dari sekolah lain.

Semua keraguan tersebut pupus beberapa waktu lalu. Tepatnya, saat Mirza bersama tim mengikuti lomba drumband antarsekolah. Perlombaan ini digelar untuk memperebutkan piala bergilir dari Walikota Bandung. Selain itu, ada juga penilaian untuk beberapa kategori. Seperti apa perjalanan Mirza dan teman-teman? Ikuti cerita lengkapnya berikut ini ya. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

pasukan alat musik berpose sebelum lomba drumband sekolah dimulai - catatan bunda

Mengenal Bagian dalam Tim Drumband

Dalam persiapan lomba drumband antarsekolah ini, para murid dididik oleh seorang guru. Beliau membagi anak-anak untuk memegang beberapa fungsi yang berbeda. Walaupun berbeda, semua unsur memiliki peranan yang sangat penting. Ada bagian apa saja dalam tim drumband sekolah Mirza?

Personel drumband anak-anak ini terdiri dari 3 bagian:

  1. Majorette 2 orang, yang bertugas mengatur dan memimpin alur permainan;
  2. Tim Pasukan, yang bertugas bermain alat musik. Pasukan ini juga terbagi lagi menjadi beberapa bagian seperti:

Bellyra, kebetulan tim ini perempuan semua. Tim ini memainkan melodi dan membuat tatanan musik menjadi indah. Menariknya, ini adalah tim yang pertama kali ditentukan siapa yang mampu mengingat hitungan dan tangga nada untuk menempati posisi tersebut.

Anak laki-laki, semuanya memainkan alat seperti Snare Drum, Bass Drum, Cymbal, dan beberapa alat lainnya yang membuat nuansa musik yang dihasilkan jadi lebih energik dengan dentuman-dentuman pukulan mereka.

  1. Colour Guard (CG) atau penari, tim ini seluruhnya perempuan. Mereka ini mempercantik pertunjukan dengan tarian dan adegan yang mempertegas makna lagu yang dimainkan oleh tim pasukan.

Bagian atau istilah itu yang saya lihat di tim Drumband TK ini. Bisa jadi berbeda dengan tim yang lebih senior atau tim yang sudah lebih profesional. Ketika TK A, Mirza sudah menjadi salah satu pasukan dalam lomba drumband TK. Mirza saat itu memainkan snare drum. Dia ikut latihan secara rutin, tetapi tidak pernah ikut lomba.

Mengapa demikian?

Kebetulan saat itu bertepatan dengan acara keluarga. Kami harus pulang kampung untuk sementara waktu. Oleh sebab itu, tidak ada kesan yang menempel tentang lomba drumband saat Mirza berada di TK A.

Kegiatan ini jadi jauh lebih bermakna ketika Mirza masuk TK B. Mirza mendapat kepercayaan kembali untuk masuk ke dalam tim drumband. Tidak tanggung-tanggung, Mirza langsung mendapat kepercayaan untuk memainkan 3 alat sekaligus, yaitu Bass, Cymbal, dan Hit Hat.

Serunya lagi pada saat lagu sedang berjalan. Ada adegan dimana Mirza memainkan alat teman sebelahnya dan sebaliknya. Teman sebelahnya bergantian memainkan alat yang dipegang oleh Mirza. Kebayang tingkat konsentrasi anak-anak harus berada dalam tingkat tinggi. Selain itu, pola instrument musik yang harus mereka jalani juga lumayan rumit, seru deh liatnya.

pasukan penari TK al irsyad al islamiyyah di lomba drumband sekolah kota bandung 2019 - catatan bunda

Proses Latihan untuk Lomba Drumband Sekolah

Latihan awal tiap bagian dilatih secara terpisah, sampai akhirnya disatukan menjadi tim. Panjang juga ya perjuangan mereka?! Buat Mirza, kegiatan drumband menjadi hiburan tersendiri. Semangat di setiap latihannya, bahkan sampai pulang ke rumah dia sering bercerita kejadian yang terjadi saat latihan.

Bagaimana dia dan teman-temannya yang lupa pola pukulan, siapa saja yang ditegur karena kebanyakan main dan tidak memperhatikan instruksi. Cerita tentang teguran dari kakak pelatih ini pernah saya saksikan sendiri ketika berkesempatan melihat mereka latihan dalam persiapan lomba drumband.

Seorang anak ditegur cukup keras, tapi bukan dimarahi ya. Seketika saya yang bukan ibu anak itu jadi sedikit sakit hati hehehe.. Akan tetapi, ajaibnya anak-anak tidak pernah merasa trauma atau mogok latihan karena ditegur. Mungkin itu bedanya dimarahi dengan kasar dan ditegur dengan tegas. Dampaknya anak-anak jadi bisa serius, konsentrasi dan disiplin.

Mirza begitu semangat dengan drumband-nya. Akan tetapi, tidak semua anak merasakan hal yang sama. Banyak juga yang merasa bosan dengan kegiatan latihan lomba drumband. Bosan karena pola pukulan yang berulang terus dari hari ke hari. Disinilah peran guru-guru di sekolah mendampingi anak untuk tetap semangat berlatih. Tidak kalah penting ialah dorongan dan bujuk rayu orangtua dari rumah agar anaknya mau latihan.

pasukan beraksi di lomba drumband sekolah 2019 - catatan bunda

Waktunya untuk Beraksi

Tiba saatnya hasil latihan berbulan-bulan ditampilkan saat lomba drumband dan mendapat penilaian dari para juri. Hari perlombaan yang penuh cerita, kejutan dan berkah. Lomba dilaksanakan di GOR Citra Arena kota Bandung. Kebetulan lokasi area perlombaan sangat dekat dari rumah maupun dari sekolah. Dengan demikian, kami tidak terlalu buru-buru saat persiapan.

Tim drumband sekolah sudah melakukan persiapan dari pagi hari. Titik kumpul berada di sekolah. Anak perempuan diminta untuk datang lebih awal. Anak perempuan semua akan dirias menggunakan make up komplit dengan semua aksesoris pendukung. Tidak lama kemudian, anak laki-laki mulai berdatangan ke sekolah. Termasuk kami sekeluarga yang mendampingi Mirza. Sambil menunggu temannya di dandani, anak laki-laki sudah siap sedia berfoto, main, sampai akhirnya lari sana-sini di dalam area sekolah.

Di sela-sela waktu bermain, anak laki-laki melakukan sesi foto bersama. Mulai dari foto bersama sebagai tim hingga foto satu persatu. Dalam prosesnya, tidak sesederhana yang dibayangkan. Anak-anak sungguh aktif dan perlu usaha ekstra untuk merapikan dan membuat mereka fokus untuk diambil fotonya. Saat sesi foto, anak laki-laki masih ceria dan banyak gaya. Berbeda dengan anak perempuan yang merasa kegerahan, silau, dan berat di make up hehehehe 😀

mirza sebelum lomba drumband sekolah 2019 dimulai - catatan bunda

Selesai sesi foto, kami semua lanjut berjalan kaki ke GOR C-tra yang jaraknya dekat dengan sekolah. Di tengah perjalanan, mulai terdengar keluhan anak laki-laki yang mulai gerah dan keringatan. Mendengar keluhan Mirza, sambil menggandeng Mirza saya tanya apa dia masih mau melanjutkan latihan drumband ketika SD. Dia pun semangat menjawab ‘mau dong’.

Tiba di GOR C-tra, tim TK Al-Irsyad Al-Islamiyyah belum langsung tampil untuk beraksi di lomba drumband. Anak-anak masih menunggu giliran tampil sesuai urutan yang telah ditentukan. Semuanya menunggu dengan sabar. Anak perempuan terlihat cantik dan segar dengan tampilan mereka yang lucu. Anak laki-laki juga seger banget, rambut mereka semua basah seperti habis keramas tapi agak bau kecut-kecut sedep gitu hihihi.

Anak-anak melakukan persiapan akhir di luar gedung bersama para pelatih. Sementara saya sudah masuk duluan dengan berbekal name tag tim official jadi-jadian hehehehe. Tim official seharusnya terdiri dari pelatih dan para guru. Akan tetapi, berhubung saya akan mendokumentasikan anak-anak beraksi saat lomba drumband, kepala sekolah memberikan name tag tim official itu kepada saya. Sementara anak bungsu akan masuk ke tempat lomba bersama dengan ayah. Mereka berdua duduk di tribun yang sudah ditentukan oleh pihak panitia.

Jeng-jeng… nama TK Al Irsyad Al Islamiyyah dipanggil untuk memasuki arena perlombaan. Saya yang sudah naik ke atas tribun mulai merasa deg-degan, senang, bangga, pokoknya campur aduk. Anak-anak pun masuk arena sesuai latihan yang sudah dilakukan berbulan-bulan sebelumnya.

suasana lomba drumband sekolah di gor citra bandung 2019 - catatan bunda

Insiden ketika Lomba Drumband Sekolah

Tidak seru namanya jika lomba tanpa ada insiden. Saya sudah menyaksikan dan merekam kegiatan Gladi Resik Drumband ini. Termasuk melihat sendiri kedekatan Mirza dengan sahabatnya di sekolah. Dengan demikian, saya hafal urutan lagu yang seharusnya dimainkan oleh anak-anak saat lomba drumband. Urutan yang dimainkan ialah sebagai berikut:

  1. 3 lagu pemanasan
  2. 1 lagu inti, mereka membawakan lagu dari film anak Omar dan Hana.
  3. 1 lagu pembubaran

Saat tiba giliran anak-anak untuk berlomba, semua tampak berjalan dengan lancar. Tim official bergegas (baca: berlarian) kesana kemari menyusun alat-alat. Setelah semua alat siap pada lokasinya, Mirza dan teman-temannya bisa masuk ke arena dan memulai aksinya.

Selang beberapa waktu kemudian, mulai terjadilah insiden tersebut. Tepatnya pada saat Majorette memberikan aba-aba. Ruangan GOR Citra yang jadi tempat perlombaan sangat besar. Oleh sebab itu, suara 2 Majorette agak tenggelam. Akibatnya, pasukan di belakang kurang jelas mendengar aba-abanya.

Kakak pelatih langsung lari terbirit-birit menuju Majorette. Tujuannya untuk membantu memperbaiki koordinasi antara majorette dan pasukan. Akan tetapi, semuanya sudah terlambat. Pasukan sudah mulai memainkan alatnya.

Pada awal permainan, ritme alunan pasukan drumband agak berantakan. Ajaibnya, seketika iramanya langsung menjadi satu karena mereka saling menyesuaikan. Bagi saya dan khususnya ibu-ibu yang sudah melihat anak-anak berlatih, deg-degan bukan main. Kami merasa seakan-akan jantung kami antara mau berhenti sepersekian detik dan kemudian berdebar kencang.

Akibat awalan yang tidak sesuai rencana, dampaknya terasa hingga ke alur permainan drumband secara keseluruhan. Color Guard (penari) juga ikut terdiam. Mereka semua bingung dengan nada dan tempo yang dihasilkan dari tim pasukan. Akhirnya mereka kehilangan adegan bermain permainan tradisional dan diganti dengan gaya Break Pose (diam terbengong-bengong). Istilah dalam bahasa sunda dikenal dengan sebutan ngahuleng.

Lalu keajaiban selanjutnya pun terjadi. Tiba-tiba semuanya mulai melanjutkan gerakan sesuai lagu yang dimainkan tanpa ragu. Saat itulah kami salut kepada anak-anak karena mereka semuanya melakukannya dengan profesionalitas yang tinggi.

Gimana ceritanya kalau Color Guard terdiam sampai akhir lagu?

Pasukan masing-masing terpecah memainkan nada dan ketukan yang berbeda?

Aagh… hebat sekali. Gimana kalau ibu-ibunya yang ada diposisi mereka? Mungkin kami udah bubar dan malu hehehe.

Tidak hanya itu, ada satu kejadian lagi yang baru kami ketahui ketika lomba drumband anak-anak sudah selesai. Kejadiannya pada Bellyra, yaitu ketika Riri dan Almira harus bertukar tempat.

Keduanya sudah betul bertukar tempat, tapi Riri seharusnya meninggalkan pemukul (stick) di atas alat. Tapi Riri malah membawa pemukul tersebut. Alhasil, ketika Almira sampai ke posisi alatnya kebingungan karena pemukulnya tidak ada.

Kira-kira apa yang akan terjadi jika anda berada pada posisi Almira?

Hal yang tak terduga bagi kami, Almira tetap bermain dengan invisible stick nya.

Almira bergerak seakan-akan dia memegang pemukul dan main sesuai notasi. Selesai lagu dimainkan, spontan Riri kembali menghampiri Almira lalu meminta maaf karena pemukulnya terbawa olehnya. Padahal saat itu masih dalam hitungan waktu tim untuk tampil dan belum selesai atau bubar.

Betapa hebatnya anak-anak ini, tidak grogi ketika salah dan bisa berimprovisasi. Khusus untuk Riri pun menunjukkan sikap yang baik dengan langsung minta maaf untuk menyelesaikan masalah yang muncul.

para orangtua yang tegang menyaksikan anak beraksi di lomba drumband sekolah 2019 - catatan bunda

Hasil Lomba Drumband Sekolah Tingkat Kota Bandung 2019

Selesai menyaksikan lomba drumband sekolah, kami pun segera keluar dari arena. Mulai terasa perut yang lapar karena belum sempat makan dari pagi. Kami dihadapkan beberapa pilihan. Apakah cari tempat makan siang yang tidak terlalu jauh dari lokasi? Atau membawa lauk pauk saja untuk dinikmati bersama keluarga di rumah? Akhirnya kami memilih opsi yang kedua saja.

Dari kejadian insiden selama perlombaan, ibu-ibu mulai merasa pesimis dengan hasil lomba. Walaupun tidak terucap antara satu dan lainnya. Grup Whatsapp ibu-ibu sekolah pun sepi. Tidak ada yang membahas perlombaan tadi.

Saya sebagai seksi dokumentasi mulai mengirimkan foto-foto hari itu. Sedikit demi sedikit, grup whatsapp mulai ramai lagi dengan ucapan terimakasih. Selain itu, mulai membahas apa saja yang terjadi setelah lomba (tanpa membahas insiden saat lomba).

Selesai lomba, kami mendengar anak-anak juga ikut berkomentar. Komentar umum dari anak-anak:

“Kenapa lombanya sebentar sekali? Tau-tau udahan lagi! Belum juga dapat piala”

Mungkin mereka latihan berbulan-bulan tapi hanya tampil sekitar 10 menit. Itu juga setelah terpotong 1 lagu tidak dimainkan. Kami pun tersenyum saja mendengar celotehan anak-anak. Semangat mereka masih sangat tinggi rupanya.

juara umum lomba drumband sekolah TK kota Bandung 2019 - catatan bunda

Lalu, bagaimana dengan hasil lomba drumband tim sekolah Mirza? Malam harinya, saya mendapat kabar dari salah seorang bunda guru. Hasilnya sungguh diluar dugaan kami sebelumnya. Mirza dan tim mendapatkan hasil sebagai berikut:

Foto dengan 4 piala untuk juara kategori:

  • Juara 1 general effect
  • Juara 1 analisis musik
  • Juara 2 colour guard (CG)
  • Juara 2 kostum

TK Al Irsyad Al Islamiyyah menjadi Juara Umum 1 dan juga berhasil membawa pulang kembali piala bergilir yang setelah 2 tahun mampir ke sekolah TK lain. Saya pun segera teruskan ke grup ibu-ibu. Wah, disitu mulai ramai komentar dan pernyataan antara percaya dan tidak percaya dengan hasilnya.

Mulai juga dibahas satu persatu kesalahan yang terjadi, salut dengan respon anak-anak hingga kami bisa menganalisa kesalahan-kesalahan terjadi itu menjadi berkah. Hasil analisa kami sebagai ibu-ibu pengamat perlombaan, yang membuat juri memilih jadi juara:

  1. Terpecah belah 2 musik lagu 1 mungkin jadi variasi musik yang unik.
  2. Color Guard memberikan trendsetter gaya “NGAHULENG“.

Begitulah cara kami melepas rasa kecewa dan pesimis yang sempat bersarang di dalam dada. Terimakasih anak-anak, kalian sudah menunjukan atraksi dan sikap TERBAIK atas hasil jerih payah kalian berbulan-bulan.

Bahkan ada 2 orang anak yang malam hari sebelum lomba sempat panas tinggi sampai 39 derajat celcius. Tapi menjelang lomba, keduanya datang dengan semangat tanpa paksaan. Walaupun setelah lomba salah satunya kembali demam.

Semoga dari salah satu kegiatan ini menjadi pelajaran penting buat anak-anak dan menjadi bekal untuk kehidupan mereka kelak. Buat orangtua khususnya emak-emak, jangan terlalu baper.. Wong anak-anaknya santai aja nggak ada beban hihihi. Mendingan dibawa menikmati makanan pedas yang lezat aja biar lupa sama bapernya 😀

(Visited 103 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada Pertanyaan?

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda