Kebahagiaan tersendiri hadir saat berinteraksi dengan anak

Anak sulung saya, Mirza, saat ini berusia 4 tahun lebih. Mirza sudah mulai latihan bersekolah di TK A. Beberapa waktu yang lalu, di sekolahnya diadakan semacam Market Day.

Apa itu Market Day?

Sederhananya, anak-anak diberi kesempatan untuk jualan. Buka stand. Jual apa saja diperbolehkan.

Tiap produk yang disiapkan, bisa dijual dengan harga maksimal Rp 2.000 / buah.

Lalu, apa yang Mirza (dan saya) persiapkan kala itu? Ikuti terus ya ceritanya ^_^

Latihan Jadi Pengusaha di Market Day TK
  • Facebook
  • Google+
  • Pinterest
  • Buffer

Latihan Jadi Pengusaha di Market Day TK

Latihan Jadi Pengusaha di Market Day

Mirza antusias banget saat diberi tahu akan jualan di sekolah. Saya pun mencari informasi, anak-anak lain mau jualan apa saat acara Market Day.

Dari hasil riset sederhana, rata-rata pada mau jualan produk makanan. Macam-macam jenisnya.

Dari situ, saya ajak Mirza untuk ngobrol. Sambil cari ide, mau jualan produk apa ya? Yang beda dan tidak ada pesaingnya.

Mirza suka banget sama mainan. Saya coba eksplorasi ide di area sekitar produk mainan. Setelah beberapa waktu, akhirnya saya menemukan ide membuat produk berupa Spinner.

Mirza tanya, “Spinner itu apa, Ma?”

Saya tunjukin ke Mirza, browsing sejenak untuk mencari tentang spinner.

Seperti apa bentuk spinner pada umumnya?

Variasi model spinner seperti apa saja?

Bagaimana cara memainkannya?

Dari penjelasan sederhana yang dibantu dengan gambar, Mirza mulai terbayang tentang jenis mainan ini.

Setelah itu, saya lanjutkan obrolannya dengan Mirza. Akhirnya sampailah pada rencana detail untuk membuat spinner rumahan dengan bahan seadanya.

Saya pun ajak Mirza untuk kolaborasi.

“Kak, kita bikin spinner banyak ya. Mama yang buatkan spinnernya. Nanti kakak yang menghias dan mewarnai spinnernya ya”

Mirza setuju.

Bahan utama yang kami gunakan untuk membuat spinner terdiri dari keping CD atau DVD bekas, kelereng dan kertas.

Awalnya saya yang menyiapkan dan menyatukan bahan-bahan utama ini menjadi berbentuk sebuah spinner.

Saya sambil menunjukkan ke Mirza, langkah-langkah yang saya kerjakan untuk membuat mainan untuk acaranya di sekolah nanti.

Mirza pun memperhatikan. Terkadang ga sabar juga, pengen cepat selesai. Hehehe

Setelah ada yang jadi, saya gambar beberapa pola di spinnernya.

“Kakak, gambarnya mau bentuk apa?”, tanya saya.

“Kakak mau bentuk segitiga ma”

“Mau bentuk lingkaran ma”

“Kakak ga mau sama bentuknya ya Ma. Harus beda-beda”

Dan celetukan lainnya. Alhamdulillah, banyak imajinasi Mirza yang muncul.

Jadinya saya pusing juga, hahahaha. Bentuk apa lagi ya yang digambar? Supaya tiap spinner punya ciri khas dan unik. Berbeda-beda modelnya.

proses pembuatan spinner mirza
  • Facebook
  • Google+
  • Pinterest
  • Buffer

proses pembuatan spinner mirza

Saya coba gambar beberapa pola, yang polos, belum diwarnai secara penuh. Setelah terbentuk polanya, saya serahkan ke Mirza. Pensil warna, spidol dan alat pewarna lain sudah siap.

Mirza mulai berkreasi. Warna satu dan warna yang lain mulai digunakan untuk mengisi pola yang sudah terbentuk. Saya bebaskan ke kakak untuk berkreasi dengan berbagai warna.

Di sela-sela proses mewarnai dan mendesain tersebut, kami selingi juga dengan main dan mencoba putaran spinnernya. Sambil bercanda, supaya kakak bisa lebih rileks dan menikmati proses pembuatannya.

Persiapannya memakan waktu beberapa hari. Hingga akhirnya jadi 15 desain untuk acara Market Day di sekolah kakak.

Saat persiapan, saya coba bagi-bagi cara promosi produknya ke kakak saat jualan nanti.

Mama (M) : “Kakak udah tahu gimana cara jualan spinnernya?”

Kakak (K) : “Belum tahu, Ma”

M: “Kakak masih inget sama temen Upin Ipin yang suka jualan? Siapa ya namanya?”

K: “Ingat Ma, namanya Mail”

M: “Nah, betul. Salah satu cara promosinya bisa seperti cara Mail. Dia ga malu untuk promosi ke banyak orang yang lewat tokonya”

“Jadi kakak coba untuk promosiin ke temen-temen yang lewat toko kakak. Jangan lupa tunjukin cara main spinnernya. Kasih peragaan gratis”

K: “Tapi kakak malu, Ma”

M: “Hehehe.. Gapapa, sambil latihan ya, ga harus langsung bisa dan sempurna”

M: “Kalo kakak ditanya, ini berapa harganya? Kakak jawab, harganya dua ribu. Oke?”

K: “Oke Ma” (sambil tersenyum gembira)

Dan latihan ini kami ulang beberapa kali, sampai tiba waktunya tanggal acara berlangsung.

Repetisi atau pengulangan.

Kata kunci yang selalu saya pegang saat mempelajari sesuatu bersama anak. Bisa karena terbiasa dilakukan secara berulang-ulang.

Ciptakan juga suasana yang santai dan menyenangkan supaya anak bisa lebih enjoy saat mempelajari sesuatu.

Percayalah, proses interaksi ini bisa membantu memperbaiki ikatan antara ibu dan anak. Bonding istilah keren jaman sekarang.

Mirza Latihan Jadi Pengusaha di Market Day

Saat tiba hari H, pelaksanaan Market Day, saya dan suami mengantar kakak berangkat ke sekolah seperti biasa. Tanpa target muluk-muluk.

Biarkan saja mengalir seperti apa adanya.

Harapan saya ialah supaya kakak bisa menikmati Market Day ini seperti hari-hari sekolah seperti biasanya.

Beberapa jam kemudian, saat kami menjemput kakak pulang dari sekolah, baru kami tanya dan ajak ngobrol.

Kaget, ternyata produk iseng ini ludes dibeli oleh teman-teman kakak. Wuaah, gembira sekali saya saat mendengar cerita langsung dari kakak dan gurunya.

Bahkan sampai ada yang nangis karena tidak kebagian. Hehehe, Alhamdulillah.

Saya dikirimi beberapa foto kegiatan Market Day ini.

foto saat jualan spinner di sekolah
  • Facebook
  • Google+
  • Pinterest
  • Buffer

foto saat jualan spinner di sekolah

Saya belajar banyak hal dari kegiatan Market Day kali ini. Selain pengalaman yang kakak rasakan untuk latihan jadi pengusaha.

Dari bahan yang sederhana, bisa diolah menjadi sebuah produk yang unik dan berbeda dari yang lain. Hingga akhirnya tidak ada saingan saat acara berlangsung dan sangat laris.

Pembelajaran lainnya, proses yang kami jalani dari pembuatan hingga acara berlangsung, bisa menambah ikatan batin antara seorang ibu dengan anaknya.

Saya sebagai seorang ibu, tentu ingin punya ikatan yang baik dengan anak.

Beberapa waktu setelah acara berlangsung, kakak bermain dengan anak-anak lain dalam satu komplek.

Ada salah seorang anak yang menghampiri kakak dan berkata,

“Ayahku punya helikopter loh, tapi sekarang lagi diperbaiki di kantor”

Awalnya kakak tidak terlalu memperhatikan. Lalu, tak lama kemudian, kakak merespon temannya seperti ini,

“Mama bikinin spinner buat aku loh”

Saat mendengar celotehan kakak seperti itu, terselip rasa gembira di hati saya sebagai mamanya.

Apa itu?

Bahwa anak saya mengenal mamanya sebagai seseorang yang dekat dengannya, mau bermain dengannya, mau berinteraksi dengannya. Sehingga kegiatan sederhana yang kakak lakukan bersama saya, membekas dan terekam dengan baik di dalam hatinya.

Ada rasa bangga dari kakak pada mamanya.

Bukan hanya sekedar mengingat orangtua dengan barang atau harta yang dimilikinya.

Demikian kisah kali ini, Mirza latihan jadi pengusaha di Market Day. Semoga ada hikmah dan manfaat bagi pembaca Blog Catatan Bunda.