Grup Diskusi

Ada pertanyaan dari informasi di Catatan Bunda? Bisa ditanyakan langsung di Grup

Idul Fitri Bersama Keluarga, Catatan Kumpul Hari Raya Tahun 2018

Merayakan Idul Fitri bersama keluarga tentu jadi keinginan setiap muslim di Indonesia. Oleh sebab itu, kita semua mengenal satu tradisi tahunan yang namanya mudik. Tiap muslim yang sedang merantau serentak mau pulang ke kampung halaman. Ingin berkumpul dengan keluarga dan merayakan lebaran bersama keluarga.

Bagaimana dengan keluarga kami? Apa saja cerita libur lebaran kami di tahun 2018 kali ini? Dalam cerita singkat kali ini, anda bisa menikmati seperti apa kegiatan libur Idul Fitri 2018 ala keluarga kami. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat ya 😀

Tidak lupa kami dari Catatan Bunda, ingin mengucapkan:

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriah Mohon Maaf Lahir dan Batin

cerita idul fitri bersama keluarga di bandung indonesia - catatan bunda

Kisah Idul Fitri Bersama Keluarga Tahun 2018

Saya dan suami berasal dari dua lokasi yang jauh berbeda. Saya berasal dari Medan, sedangkan suami asli kelahiran Semarang. Jadi, bisa dipastikan saat mudik, kami harus diskusi untuk menentukan tiap tahun mau merayakan Idul Fitri bersama keluarga di Medan atau Semarang.

Persiapannya tentu akan jauh berbeda. Mulai dari moda transportasi, barang-barang yang dibawa hingga persiapan tabungan untuk perjalanan mudik. Jika mudik ke Medan, terbang naik pesawat sudah menjadi pilihan utama. Sedangkan jika pulang kampung ke Semarang, kami lebih suka menggunakan mobil pribadi.

Bagaimana lebaran pada tahun 2018 ini?

Beberapa hari sebelum bulan Ramadhan, kami pergi ke Duri. Menghadiri acara pernikahan saudara sekaligus liburan di rumah kakak yang saat ini bekerja dan tinggal di Duri. Pada kesempatan tersebut, keluarga besar berdatangan dan berkumpul di Duri. Termasuk keluarga yang berasal dari Medan.

Pada kesempatan tersebut, kami akhirnya memutuskan sesuatu sambil minta ijin ke mama. Kemungkinan besar kami tidak bisa mudik ke Medan. Jadi kumpul keluarga di Duri kami jadikan sebagai ajang silaturahmi pengganti perjalanan pulang kampung ke Medan. Mama pun mengijinkan dan memahami.

Setelah rangkaian acara di Duri selesai, kami pulang kembali ke Bandung. Sambil komunikasi dengan orang tua di Semarang. Bagaimana rencana saat libur lebaran keluarga tahun 2018. Kami sempat berpikir untuk pergi mudik ke kampung halaman suami di Semarang. Acara kumpul keluarganya di Semarang saja.

Orang tua kami mengusulkan hal yang berbeda. Idul Fitri bersama keluarga tahun 2018 ini diadakan di Bandung saja. Ada beberapa pertimbangan yang mendasarinya.

Yang pertama, ialah adik kami yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Saat ini usianya masih menjelang 3 bulan. Rasanya kasihan jika harus dipaksa untuk pergi mudik jarak jauh ke Semarang.

Faktor yang kedua, lebih cepat dan praktis bila orang tua yang ke Bandung saja. Kebetulan semua anaknya sudah tinggal di Bandung saat ini. Oleh sebab itu, kami putuskan untuk kumpul keluarga di Bandung saja.

Bagi para pembaca yang mudik ke kampung halaman, selalu hati-hati dalam perjalanan mudik ya. Semoga diberikan kelancaran dan keselamatan. Mulai dari berangkat hingga pulang kembali ke rumah.

memasak sambal goreng kentang untuk idul fitri - catatan bunda

Menjalankan Puasa Bersama Keluarga

Orang tua sudah memesan tiket kereta api jauh hari sebelumnya. Jadi mendekati waktu lebaran, sudah tidak perlu kebingungan berburu tiket. Beberapa hari sebelum Idul Fitri, orang tua berangkat dari Semarang menuju ke Bandung. Pilihannya waktu itu menggunakan Kereta Api Ciremai.

Kami pun bersiap-siap untuk menjemput di Stasiun Bandung. Perjalanan pun lancar dan tidak ada kendala, Alhamdulillah. Bapak dan ibu berangkat dari Semarang sore hari dan tiba di Bandung tengah malam. Selesai dari stasiun Bandung, kami pulang ke rumah.

Akhirnya kami bisa sahur dan melaksanakan ibadah puasa bersama orang tua. Walaupun hanya beberapa hari terakhir Ramadhan. Kegiatan selama puasa pun lebih banyak dihabiskan di rumah. Ketika tiba waktunya sholat berjamaah, bapak, suami, dan adik langsung bergerak menuju ke masjid. Cukup jalan kaki saja selama 5 – 10 menit sudah sampai.

Alhamdulillah di dalam komplek perumahan kami ada Masjid Baitul Makmur sebagai pusat kegiatan ibadah umat Islam di dalam komplek dan warga sekitar. Menjelang akhir Ramadhan, suasana masjid sudah mulai sepi. Ketika awal Ramadhan, shaf jamaah bisa membludak hingga keluar.

Berbeda ketika memasuki akhir Ramadhan. Shaf jamaah tinggal tersisa 2 hingga 3 baris saja. Kemungkinan sudah mulai banyak warga komplek yang mudik ke kampung halaman masing-masing.

Selain puasa bersama, buka puasa menjadi momen istimewa yang ditunggu-tunggu. Ibunda pun memasak berbagai masakan spesial. Kami pun menikmati makanan dengan lahap. Namanya masakan orang tua, tentu punya citarasa dan kenikmatan tersendiri.

Saat tiba waktunya sholat isya dan tarawih berjamaah, kami pun berangkat bersama. Jalan kaki beriringan ke masjid. Tidak lupa anak-anak kami ajak untuk ikut serta. Membiasakan suasana kegembiraan bulan Ramadhan. Selain itu, mendidik anak laki-laki kami untuk terbiasa sholat di masjid.

Banyak kehebohan saat membawa anak bungsu saat sholat berjamaah. Pada akhirnya saya tidak bisa full sholat isya hingga selesai sholat witir berjamaah. Anak bungsu banyak tingkahnya dan meminta pulang ke rumah dengan banyak alasan. Salah satunya karena kebelet buang air besar. Jadinya saya dan anak bungsu pulang ke rumah 😀

kari daging sapi dan roti jala - catatan bunda

Menunggu Sidang Isbat Penentuan Idul Fitri

Kami pun tiba di penghujung bulan Ramadhan. Ada satu acara yang ditunggu-tunggu di akhir bulan puasa. Apa itu?

Acara tersebut ialah sidang isbat untuk menentukan hari raya Idul Fitri. Bila hilal tidak terlihat, maka puasa akan diteruskan. Jika sudah terlihat dan memenuhi syarat, maka keesokan paginya sudah masuk ke tanggal 1 Syawal 1439 Hijriah.

Sambil menikmati makanan berbuka puasa, kami menonton pengumuman sidang isbat. Di sinilah salah satu kenikmatan Idul Fitri bersama keluarga. Bisa makan bersama, ngobrol dan membicarakan banyak hal.

Akhirnya pengumuman Menteri Agama pun tiba. Hilal sudah terlihat dan memenuhi syarat. Oleh sebab itu, keesokan paginya, hari Jumat 15 Juni 2018 ditentukan sebagai hari raya Idul Fitri 1439 Hijriah.

Itu artinya kami akan melaksanakan sholat Ied berjamaah. Sholat idul fitri akan dilakukan jam 6.30 WIB di jalanan komplek perumahan kami. Tepat di depan masjid Baitul Makmur.

rendang kalio untuk lebaran - catatan bunda

Menu Makanan Idul Fitri Bersama Keluarga

Kumpul merayakan Idul Fitri bersama keluarga tidak lengkap tanpa adanya menu makanan khas Idul Fitri. Beberapa menu yang menjadi ciri khas saat Idul Fitri diantaranya ialah opor ayam, sambal goreng ati, ketupat dan lain-lain.

Akan tetapi, kami memutuskan untuk memasak sesuatu yang berbeda. Yang memasak menu makanan Idul Fitri 2018 kali ini ialah ibu bersama saya. Persiapan memasak sudah kami lakukan beberapa hari sebelumnya.

Apa saja yang kami masak untuk dinikmati saat hari raya?

Saya mengusulkan pada ibu untuk memasak masakan khas Sumatera untuk Idul Fitri tahun 2018 ini. Akhirnya jatuhlah pilihan kami ke menu rendang, sambal goreng kentang, acar buah, dan roti jala beserta kuah kari.

Mulailah kami berbelanja bahan makanan yang diperlukan. Kebetulan ada pasar tradisional di dekat rumah kami. Saat bapak dan ibu pergi ke pasar, kaget bukan kepalang. Harga bahan makanan semuanya melonjak pada H-2 dan H-1 Idul Fitri 2018. Salah satunya ialah harga ayam yang melonjak hingga mencapai Rp 50.000 per kilogram. Belum bahan makanan yang lainnya 😀

Kami masak pada hari terakhir Ramadhan. Hampir seharian saya memasak bersama dengan ibu. Saya pun telepon mama yang berada di Medan untuk konsultasi soal resep yang kami masak. Untuk memastikan semua rasa makanannya enak dan bisa dinikmati saat Idul Fitri bersama keluarga.

Selain makanan utama, tidak lengkap rasanya merayakan Idul Fitri tanpa kue lebaran. Apakah kami masak kue lebaran juga? Tentu tidak. Saya tidak bisa memasak kue lebaran yang enak, hehehe 😀

Jadinya beli saja di dekat rumah. Ada satu merk kue lebaran terkenal yang pusat produksi dan penjualannya terletak di sekitar komplek perumahan kami. Beberapa kue lebaran pun sudah dipesan. Siap disantap saat kumpul Idul Fitri bersama keluarga.

Alhamdulillah makanan yang kami siapkan sangat bisa dinikmati oleh semua anggota keluarga. Tidak perlu waktu lama untuk menghabiskan rendang, roti jala, dan masakan lainnya. Laris manis tanjung kimpul 😀

menu masakan keluarga saat idul fitri 2018 - catatan bunda

Sholat Ied Dan Sungkem Orang Tua

Pagi hari saat Idul Fitri, kami bersiap untuk pergi sholat Ied. Kami bersusah payah membangunkan anak-anak. Setelah bangun, tanpa pikir panjang, mereka langsung dimandikan. Anak-anak perlu waktu yang lama dan ritual persiapan yang panjang.

Jadi begitu ada kesempatan, kami langsung memandikan anak-anak. Anggota keluarga lain pun mulai bergantian untuk mandi. Begitu semuanya siap, kami pergi berjalan kaki menuju lokasi sholat Ied. Takbir terus berkumandang dari malam hingga sholat Ied dimulai.

Saat waktu menunjukkan jam 6.30 WIB, sholat Ied pun dimulai. Para jamaah mengikuti gerakan sholat Ied yang dipimpin oleh seorang Imam lulusan Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Sholat Ied memiliki perbedaan dari sholat lainnya. Pada rakaat pertama melakukan 7 kali takbir dan rakaat kedua melakukan 5 kali takbir.

Setelah selesai sholat, imam pun berdiri di mimbar untuk menyampaikan khutbah. Para jamaah tetap duduk di tempat hingga khutbah selesai. Begitu selesai, barulah kami semua berdiri dan berjalan kaki pulang ke rumah untuk kumpul Idul Fitri bersama keluarga.

Ada satu kebiasaan yang kami lakukan saat kumpul Idul Fitri bersama keluarga. Terutama setelah sholat Ied. Kami melakukan proses sungkeman dan saling meminta maaf. Proses pertama dan utama ialah meminta maaf kepada bapak dan ibu sebagai orang tua kami semua. Meminta doa dan restu yang mustajab dari bapak dan ibu, mohon maaf atas segala kesalahan kami sebagai anak-anak.

Setelah itu, proses saling memaafkan terus bergulir hingga anak, menantu dan cucu. Muncul rasa haru saat saling meminta maaf. Muncul doa-doa baik saat momen sakral tersebut. Muncul semangat baru untuk lebih baik pada masa-masa mendatang. Muncul doa supaya kami sekeluarga dipertemukan kembali pada saat bulan Ramadhan tahun yang akan datang.

Selesai proses saling meminta maaf saat Idul Fitri bersama keluarga, kami melanjutkan untuk foto bersama ala foto di studio foto. Akan tetapi, kali ini foto keluarganya cukup di rumah saja. Dengan perlengkapan sederhana yang kami miliki, kami melakukan foto keluarga.

foto bersama keluarga saat lebaran - catatan bunda

Mulai dari bapak dan ibu dulu yang diambil fotonya. Dilanjutkan hingga pose foto komplit bersama anak, menantu dan cucu-cucu. Muncul gelak tawa selama proses foto Idul Fitri bersama keluarga.

Apalagi jika bukan saat mempersiapkan foto untuk cucu. Mulai dari anak adik kami yang masih bayi, hingga mempersiapkan foto anak bungsu dan anak sulung kami. Tingkah polah anak-anak yang bermacam-macam, mulai dari menangis hingga ketawa pun ada. Itulah salah satu keseruan Idul Fitri bersama keluarga 😀

Hari itu, kami putuskan untuk tidak bepergian kemana-mana. Menikmati waktu Idul Fitri bersama keluarga di rumah saja. Kami tahu, jalanan kota Bandung pasti akan sangat luar biasa padat dan macet berat.

Benar saja, sore harinya ada tetangga yang berkunjung ke rumah. Beliau menceritakan betapa macetnya jalanan Bandung hari itu. Beliau yang berkeliling ke rumah orang tua dan keluarga lainnya terjebak macet di mana-mana. Rute normal yang biasa dilalui 45 menit, kali ini bisa menghabiskan waktu hingga 2 jam lebih.

Mendengar hal tersebut, kami pun langsung beryukur. Alhamdulillah, keputusan kami benar, tidak perlu kemana-mana dulu. Tidak terbayang bagaimana macetnya keliling Bandung saat menggunakan mobil. Kami akan berkeliling dan menjelajah tempat makan enak pada hari yang lain dan tidak terlalu padat.

Alhamdulillah, demikian cerita singkat kami saat kumpul Idul Fitri bersama keluarga. Menghabiskan waktu bersama orang tua, adik, dan keponakan menjadi pilihan utama pada Lebaran tahun 2018 kali ini. Semua lancar tanpa ada kendala yang berarti.

Bagaimana dengan cerita Idul Fitri bersama keluarga yang anda lakukan pada tahun 2018 ini? Semoga semuanya berbahagia ya 😀

(Visited 5,968 times, 5 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Grup Diskusi

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda