Free Update

Dapatkan update mingguan GRATIS dari Catatan Bunda yang akan dikirim langsung ke alamat email Anda

Honeymoon Backpacking di Malang, Keluyuran Menikmati Kota Apel

Honeymoon Backpacking di Malang.Β Selama hampir 7 tahun hidup berumah tangga, saya dan suami jarang sekali bisa bepergian berdua saja keluar kota.

Saat bepergian, kami hampir selalu membawa anak-anak. Kecuali pada saat-saat tertentu, seperti pada saat kami berdua melaksanakan ibadah umroh beberapa tahun yang lalu.

Alhamdulillah, tahun ini kami menemukan satu kesempatan dimana kami bisa pergi berdua saja. Akhirnya saya dan suami memutuskan untuk pergi berlibur ke Kota Malang. Seperti apa perjalanan kami saat honeymoon backpacking di Malang? Simak perjalanan kami dalam beberapa seri artikel ke depan.

Mengapa dipecah menjadi beberapa cerita? Jika disatukan, ceritanya akan sangat panjang.

Anda malah tidak bisa menikmati kisah perjalanan kami nantinya. Oleh sebab itu, kami memutuskan untuk membagi cerita perjalanan honeymoon backpacking di Malang ke dalam beberapa cerita terpisah yang saling berkaitan.

Selamat menikmati πŸ˜€

Honeymoon Backpacking di Malang Keluyuran Menikmati Kota Apel - Catatan Bunda

Perjalanan Honeymoon Backpacking di Malang

Kami merencanakan perjalanan ini sejak 3 – 4 bulan yang lalu. Prosesnya lama ya? Iya, karena saya dan suami harus menyamakan waktu dengan keluarga besar.

Perjalanan kali ini tidak akan bisa berjalan tanpa adanya bantuan dan dukungan dari orangtua kami. Kebetulan orangtua sedang ada di Bandung karena menemani adik kami yang baru saja melahirkan anak pertamanya.

Jadi dengan adanya kesempatan tersebut, kami minta ijin untuk bisa pergi berdua untuk honeymoon backpacking di Malang.

Mengapa Honeymoon Backpacking di Malang?

Sejak merencanakan perjalanan honeymoon backpacking di Malang, kami memang ingin membuatnya sesederhana mungkin di banyak hal. Salah satunya ialah barang bawaan.

Saya dan suami ingin bisa bergerak dengan leluasa, jadi kami memutuskan untuk tidak membawa pakaian dengan memakai koper. Kebayang repotnya bergerak ketika membawa koper. Kami bepergian hanya dengan membawa ransel.Β 

Ya, saya membawa tas ransel ukuran sedang, sedangkan suami membawa tas carrier, seperti yang umum digunakan oleh para pendaki gunung. Dua tas ransel tersebut sudah cukup untuk membawa seluruh keperluan kami selama perjalanan. Ditambah satu tas kecil untuk membawa kamera dan satu tas kecil untuk membawa dompet, smartphone dan alat recharge daya baterai.

Alasan honeymoon backpacking di Malang berikutnya ialah saat memilih moda transportasi. Sempat terpikir untuk menyetir kendaraan sendiri dari Bandung ke Malang. Setelah diskusi panjang, akhirnya kami batal menggunakan mobil untuk pergi dan memilih naik kereta api.

Kami bisa memperkecil resiko kelelahan saat menyetir mobil sendiri dari Bandung menuju ke Malang. Kebayang dong, perjalanan dari Bandung ke Malang lewat jalan darat dan menyetir kendaraan sendiri memerlukan waktu sekitar 16 jam.

Belum jika di tengah perjalanan mau istirahat. Bisa lebih lama lagi sampainya. Selain itu, bila naik mobil sendiri, barang bawaannya tidak bisa terkontrol. Semua mau dibawa. Bukan backpacking lagi namanya πŸ˜€

Pertimbangan selanjutnya tentu di area biaya. Saat perjalanan, kami ingin tetap jalan-jalan dengan biaya yang relatif murah. Sementara di sisi lainnya, kami masih bisa berlibur dengan nyaman.

Kami memutuskan untuk membatasi biaya di area transportasi. Di lain pihak, kami bisa memilih tempat menginap yang nyaman dan budgetnya lumayan.

Dulu kami pernah pergi backpacking bersama teman-teman MBA ITB ke Yogyakarta. Ada 7 orang, termasuk saya dan suami. Saat itu, kami belum menikah. Masih belum beres kuliahnya πŸ˜€

Jadi, kami ingin mengulang liburan ala backpacking seperti yang dulu pernah kami jalani. Tidak sepenuhnya sama memang, minimal ada momen yang bisa kami ulangi πŸ˜€

Pertimbangan selanjutnya, kami ingin bepergian keliling kota dengan jalan kaki atau pesan taksi online. Lebih mudah dan praktis. Akan beda ceritanya bila kami membawa kendaraan sendiri hingga ke kota Malang. Pasti kami malas untuk jalan kaki saat bepergian.

Saat jalan kaki itulah kami bisa melihat banyak hal, mulai dari tempat makan, hotel, aneka jenis toko, hingga tempat jual beli mobil bekas. Itulah beberapa alasan mengapa kami memutuskan untuk traveling dan jalan-jalan bebas saat honeymoon backpacking di Malang.

Berburu Tiket Kereta Api

Setelah menemukan tanggal yang tepat, kami mulai bergerak untuk berburu tiket. Pada awalnya, sempat terbersit pikiran untuk berangkat naik mobil dari Bandung menuju ke Malang.

Akan tetapi, setelah diskusi lagi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi naik kereta api saja. Kami berburu tiket kereta api menggunakan aplikasi Traveloka.

Akhirnya dapat tiket untuk berangkat ke Malang hari Kamis 1 Maret 2018 lalu pulang pada hari Minggu 4 Maret 2018 dengan menggunakan Kereta Api Malabar.

Memilih Tempat Penginapan

Tiket kereta api sudah dapat. Selanjutnya, kami berburu tempat penginapan untuk honeymoon backpacking di Malang. Jujur, kami tidak terbayang seperti apa bentuk kota Malang.

Jadi saat memilih hotel di aplikasi Traveloka, kami menggunakan fasilitas filter yang disediakan di aplikasi. Filter seperti tarif menginap di hotel, rating hotel, fasilitas yang ada di hotel, harga yang sudah termasuk dengan sarapan pagi, dan lain-lainnya.

Plus pakai feeling juga saat lihat-lihat pilihan hotel di aplikasi πŸ˜€

Akhirnya, pilihan tempat menginap kami jatuh ke Hotel Atria Malang yang terletak di Jalan Letjen S. Parman kota Malang. Seperti apa fasilitasnya? Seperti apa bentuk kamarnya? Ada fasilitas apa saja di hotel tersebut? Recommended atau tidak?

Insyaallah akan kami ceritakan di artikel perjalanan berikutnya ya πŸ˜€

Cerita Saat Tiba di Malang

Tiket kereta api dan tempat menginap sudah kami dapatkan. Kami tinggal menunggu waktu hingga hari keberangkatan kami tiba.

Kami berangkat hari Kamis 1 Maret 2018 dari Stasiun Bandung yang berada di Jalan Kebun Kawung. Start dari rumah menggunakan layanan Go-Car. Kereta Malabar yang kami naiki berangkat tepat menuju ke Malang pada pukul 15.45 WIB. Sepanjang perjalanan, kami menikmati pemandangan di luar kereta. Sampai akhirnya hari mulai gelap.Β 

Iseng kami menuju ke restoran Kereta Api. Lalu jajan makanan, minuman dan nebeng sholat di lorong restoran, dekat kamar para kru kereta api. Singkat cerita, kami sampai keesokan paginya di Kota Malang kurang lebih pada pukul 08.00 WIB.

foto di depan alun-alun malang - catatan bunda

Hari pertama ini kami berkunjung ke beberapa lokasi sekaligus. Mulai dari alun-alun kota Malang, Masjid Agung Jami’ yang ada di sebelah alun-alun, hingga check in ke Hotel Atria yang jadi pilihan kami menginap.

Berhubung kami sampai Malang pagi hari, maka kami putuskan untuk menghabiskan waktu dulu saat pagi sampai siang hari. Rencana awalnya, kami akan menuju ke alun-alun kota dan nebeng mandi di Masjid Agung yang ada di sebelah alun-alun sambil menunggu waktu untuk check in di hotel saat siang harinya.

Seperti apa suasana Alun-Alun kota Malang pada pagi hari? Kurang lebih seperti pada video sederhana berikut ini:

Kebetulan saat itu Hari Jumat, jadi suami bisa sholat Jumat sekalian di Masjid Agung. Sampai di alun-alun, kami menikmati suasana sejenak di sini. Sungguh permulaan honeymoon backpacking di Malang yang sangat menyenangkan.

Banyak warga dan anak-anak setempat yang berkumpul di alun-alun. Baik hanya duduk di area tempat duduk yang tersebar, hingga anak-anak kecil dari TK yang sedang bermain mengejar burung merpati yang ada banyak di alun-alun kota Malang.

Pada sudut lainnya di alun-alun, terlihat ada antrian warga di loket Samsat kota Malang. Bagus juga idenya, menempatkan loket Samsat untuk mengurus surat kendaraan di alun-alun.

Suasana alun-alun kota Malang asri dan hijau. Kami pun duduk santai di area alun-alun sambil beristirahat sejenak dan minum air untuk menghilangkan rasa haus.

foto alun alun kota malang - catatan bunda

Selepas beristirahat sejenak, kami menuju ke Masjid Agung Jami. Tujuannya ingin mandi dan bersih-bersih badan sambil beristirahat menjelang Sholat Jumat. Akan tetapi, ternyata kami dilarang buat mandi di kamar mandi masjid karena sedang dibersihkan untuk persiapan Sholat Jumat.

Apa boleh buat, kami harus putar otak untuk kegiatan selanjutnya hingga Sholat Jumat tiba. Di sinilah serunya cerita traveling secara bebas dan mandiri di kota Malang. Akan ada banyak cerita di dalam perjalanannya.

Saya dan suami dituntut untuk pandai bereaksi dan beradaptasi atas situasi tertentu yang terjadi di lapangan. Seperti saat dilarang mandi di kamar mandi masjid, siapa yang mengira? Hehehe.

Kami hormati kebijakan dari para petugas, lalu beradaptasi dengan kondisi tersebut. Rencana awalnya, setelah mandi saya mau menunggu di sekitar halaman masjid saat Sholat Jumat sambil beristirahat. Dengan kondisi yang terjadi, saya pun mengubah rencana awal.

Kami sepakat untuk menuju ke satu restoran cepat saji di Sarinah, yang berlokasi di seberang alun-alun. Di situ saya bisa pesan minuman, sambil nongkrong dan beristirahat menunggu suami selesai Sholat Jumat. Selesai sholat Jumat, kami langsung pesan Go-Car untuk langsung menuju ke Hotel Atria untuk check in, mandi dan beristirahat sejenak.

Tujuan Wisata dan Jalan-Jalan di Malang

Salah satu tujuan kami honeymoon backpacking di Malang ialah wisata kuliner. Jadi, sebelum berangkat ke Malang, kami sudah browsing dan mencari aneka informasi seputar makanan yang patut dicoba selama kami di Malang.

Mulai dari kuliner modern hingga wisata kuliner khas yang ada di Kota Malang. Alhamdulillah, dari hari Jumat hingga Minggu selama perjalanan honeymoon backpacking di Malang, kami dapat banyak lokasi kuliner.

Beberapa lokasi tempat makan enak di Malang yang sempat kami cobain ialah sebagai berikut:

  • Pecel Pincuk di depan Stasiun Kota Malang;
  • Bakso Presiden
  • Tahu Lontong Lonceng
  • Puthu Lanang
  • Bakso Bakar Pak Man
  • Mie Pangsit Bromo
  • Rumah Makan Cairo

Gimana pengalaman dan pandangan kami setelah coba makan di lokasi kuliner tersebut? Enak ga rasa makanannya? Insyaallah akan kami ulas pada cerita selanjutnya ya.

Tujuan kuliner di Malang sangat beragam. Kami tidak sempat mencicipi semuanya. Seperti halnya di kota kami, wisata kuliner di Bandung juga banyak banget. Sampai sekarang pun belum semua kami cobain πŸ˜€

Selain wisata kuliner, wisata ke mana lagi?

Berhubung perjalanan honeymoon backpacking di Malang kami cuma singkat, jadi kami hanya berkunjung ke satu destinasi wisata terkenal saja. Kami main ke Museum Angkut yang terletak di Batu. Sekitar 1 jam naik mobil dari Kota Malang.

Di Museum Angkut, banyak sekali yang bisa kami lihat. Mulai dari pemandangan alam hingga aneka kendaraan bersejarah dari masa lalu hingga saat ini. Kami menghabiskan sekitar 4 jam untuk berkeliling di dalam museum.

Museum Angkut ukurannya gede dan luas banget. Kami berdua sampai gempor keliling ke semua tempat yang disediakan di dalam museum. Cerita selengkapnya bagaimana? Nantikan ya di cerita kami berikutnya.

Stay tune terus di Blog Catatan Bunda πŸ˜€

museum angkut batu malang - catatan bunda

Pengalaman Berkesan Selama Liburan di Malang

Selama perjalanan honeymoon backpacking di Malang, banyak hal berkesan yang kami dapatkan tentang kota Malang.

Pertama, driver Go-Car yang kami temui selama perjalanan, tingkat keramahannya tinggi sekali.

Selain itu, banyak informasi dan rekomendasi tujuan wisata di Malang yang kami peroleh dari ngobrol dengan para driver Go-Car. Bahkan ada tempat kuliner yang dominan direkomendasikan oleh para driver yang membantu kami selama perjalanan.

Dari enam atau tujuh driver Go-Car yang membantu kami berkeliling di kota Malang, hampir semuanya merekomendasikan satu tempat kuliner yang sama. Apa itu? Ceritanya nanti ya, di chapter selanjutnya, hehehe πŸ˜€

Kedua, tingkat kemacetan kota Malang masih jauh di bawah kota Bandung πŸ˜€

Saat kami menyusuri berbagai tujuan kami dengan Go-Car saat itu, hampir tidak ada kemacetan parah yang membuat perjalanan kami terhambat lebih lama. Kemacetan kendaraan tetap ada, tetapi masih bisa jalan. Istilahnya, padat merayap lah.

Beda halnya dengan kota Bandung, hampir setiap hari di jalanan selalu ada kemacetan di berbagai lokasi. Walaupun saat ada event tertentu dan saat liburan panjang (long weekend), di Malang macet berat juga, tutur para driver Go-Car tersebut.

Ketiga, jalanan di Kota Malang lebar-lebar πŸ˜€

Girang banget kami melihatnya. Dibandingkannya dengan apa? Tentu dibandingkannya dengan kota domisili kami, kota Bandung.

Jadi di jalanan itu berasa longgar dan lapang. Tidak berdesak-desakan. Jalanan kota Malang banyak yang terdiri dari dua lajur untuk satu arah. Jadi total ada 4 (empat) lajur untuk dua arah. Bandingkan dengan kota Bandung yang banyak jalanan yang hanya dua lajur untuk dua arah (satu lajur per arah). Tidak semua ya πŸ˜€

Jadi dengan kapasitas jalan yang kecil, jalanan di kota Bandung harus menampung jumlah kendaraan yang besar. Terutama jalanan yang menuju ke tempat wisata Batu seperti Museum Angkut. Jalanan yang kami lewati lebar-lebar.

Berbeda halnya dengan di Bandung, jalanan yang menuju kawasan wisata di Bandung Utara seperti kawasan Lembang dan kawasan Bandung Selatan seperti Ciwidey, ukurannya sempit-sempit. Hanya satu lajur saja tiap arah.

Pelajaran Menarik Selama Honeymoon Backpacking di Malang

Sepanjang perjalanan singkat honeymoon backpacking di Malang, kami mendapat banyak pengalaman dan cerita berharga. Mulai di dalam kereta api saat berangkat, hingga saat perjalanan pulang kembali ke Bandung.

Cerita Perjalanan Pertama

Seperti saat berangkat honeymoon backpacking di Malang, kami ngobrol dengan seorang bapak yang mau pulang ke kampung halamannya di Kebumen. Beliau punya satu orang anak gadis, kelas 2 SMP. Saat ini anaknya bersekolah di Pondok Pesantren Gontor.

Bapak tersebut bercerita pada kami bagaimana perjuangan dia dan anaknya saat mendaftar untuk masuk Gontor kala itu. Pesaingnya untuk diterima di Gontor sangat banyak dan berat. Anaknya punya nomor urut 815 saat proses pendaftaran.

Si bapak deg-degan sekali saat nunggu pengumuman. Sampai akhirnya nomor anaknya dipanggil oleh panitia dan dinyatakan diterima, si bapak langsung lemas seluruh badannya. Gembira banget dan bersyukur tentunya.

Cerita Perjalanan Kedua

Cerita lainnya saat di dalam Go-Car. Kami bertemu seorang driver wanita. Saat tahu kami dari Bandung, beliau langsung bicara dengan logat Sunda juga. Ternyata keluarga besar ibu tersebut banyak yang tinggal di Bandung. Jadi beliau masih sering pergi ke Bandung untuk kumpul dengan keluarga.

Yang menarik ialah, ibu tersebut punya satu orang putra. Saat ini usia anaknya sudah 25 tahun. Beliau merawat putranya sebagai single parent sejak anaknya berusia 3 tahun karena suaminya meninggal.Β 

Mendengar hal tersebut, kami banyak-banyak bersyukur karena kami masih lengkap, bisa merawat dan menyayangi kedua anak kami secara utuh. Semoga Allah memberikan kesehatan dan umur panjang pada semua orang tua yang membaca tulisan ini.

Semoga Allah mengkaruniakan kekuatan dan kesabaran untuk mendidik anak yang menjadi titipan bagi setiap orang tua. Termasuk kami berdua.

Putra dari ibu tersebut suka sekali menggambar sejak kecil. Hingga tiba saat anaknya lulus SMP dan mau melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Ibu dan anak tersebut sempat bersitegang. Mengapa?

Sang anak ingin melanjutkan sekolah di SMK, sedangkan sang ibu ingin anaknya meneruskan sekolahnya ke SMA. Sang anak ingin lebih mengasah kemampuannya dalam bidang menggambar. Hal tersebut bisa lebih mudah untuk diasah bila dia sekolah di SMK dibandingkan masuk ke SMA.

Sampai akhirnya sang ibu mengalah dan merestui keinginan sang anak untuk bersekolah di SMK. Keputusan tersebut membawa berkah. Keahlian sang anak bisa berkembang sangat baik.Β 

Mulai dari ikut berbagai kejuaraan nasional, hingga mendapat tawaran pekerjaan untuk membuat animasi pada film-film tertentu. Sampai akhirnya saat ini sang anak bisa membuka usaha sendiri di bidang video animasi.Β 

Wuah, bahagia banget kami mendengar ceritanya. Sungguh perjuangan yang tidak ringan. Kisah ibu dan anak tersebut menjadi inspirasi tersendiri buat saya dan suami dalam perjalanan honeymoon backpacking di Malang.

Cerita Perjalanan Ketiga

Saat pulang, kami kembali naik kereta api. Kami bertemu dengan dua orang yang sangat menarik. Keduanya seumuran adik bungsu kami.

Yang satu, seorang pemuda yang berprofesi sebagai freelancer di bidang fotografi. Beliau saat ini sedang mendalami fotografi dengan tema landscape. Beliau mau turun di Tasikmalaya.

Yang satunya lagi, seorang wanita petualang menurut kami. Beliau lahir di Bali, lalu sekolah SMP dan SMA di Solo, kemudian melanjutkan kuliah S1 bidang hukum di Bogor, dan saat ini sedang kuliah S2 di bidang kenotariatan di salah satu kampus di Malang.

Saat pertemuan tersebut, beliau mau main ke kota Yogyakarta. Hebatnya lagi, mbak yang satu ini pergi ke SMP dan SMA sendiri, kuliah ke Bogor dan Malang pun mengurus sendiri. Sampai saat mau berkunjung ke Yogyakarta pun sendirian saja πŸ˜€

Banyak cerita menarik yang kami dapatkan dari kedua teman baru sepanjang perjalanan pulang dari honeymoon backpacking di Malang. Dari sang pemuda, kami mendengar ceritanya keliling berbagai kota di Indonesia untuk mengerjakan proyek fotografinya.

Proyek yang sedang ditanganinya saat ini ialah wedding di Lampung. Jadi, tidak lama lagi, beliau mau jalan-jalan plus kerja ke Lampung. Asyik yah jadi freelancer, bisa kerja sekaligus jalan-jalan πŸ˜€

Beliau juga seorang penggemar kopi. Banyak hal menarik yang kami dapatkan seputar pengetahuan dan ketertarikannya pada kopi.Β 

Dari teman kami yang sedang kuliah S2 kenotariatan di Malang, kami pun banyak sekali mendapatkan cerita yang menarik. Mulai dari kehidupan keluarganya dan budaya di Bali, sampai cerita mistis pun kami dengar dari beliau.Β 

Ngeri-ngeri sedap juga pas mendengarnya πŸ˜€

Saat liburan di Bali, ikuti saja budaya dan peraturan yang sudah ditetapkan oleh warga setempat. Supaya aman dan nyaman πŸ˜€

Kami pun mendapat rekomendasi wisata menarik jika kami wisata ke Bali membawa kedua anak kami. Di mana bisa menginap, ke mana tempat menarik yang bisa dikunjungi, dan lain-lain.

Sekilas juga kami dapat bayangan tentang profesi notaris. Seperti apa jenjang pendidikannya, bagaimana peraturan Undang-Undang mengenai fee notaris, hingga batasan wilayah yang bisa ditangani oleh seorang notaris.

Dari sini pun baru kami tahu bahwa notaris dan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) itu berbeda. Seorang notaris harus ikut ujian khusus untuk mendapatkan gelar PPAT.

Banyak hal menarik yang kami dapatkan dari dua teman baru kami selama perjalanan kembali ke Bandung. Semoga lain waktu bisa bertemu kembali di Bandung ya Mas dan Mbak.Β 

Sukses selalu dengan pendidikan notaris dan profesi freelance fotografinya. Tak terasa, kereta api Malabar yang membawa kami pulang ke Bandung sudah tiba di tujuan akhirnya. Alhamdulillah perjalanan pulang kami lancar tanpa ada hambatan.

Sungguh, perjalanan honeymoon backpacking di Malang ini memberikan pengalaman menarik bagi kami berdua. Kami berencana ingin kembali lagi ke Malang, tentunya dengan membawa anak-anak untuk liburan keluarga bersama.

Banyak hal yang masih belum kami ketahui, banyak cerita menarik yang bisa kami dapatkan hanya dengan traveling. Hingga bisa mendapatkan teman baru saat di perjalanan. Sebuah rangkaian perjalanan yang sangat kami syukuri.

Demikian cerita singkat tentang perjalanan honeymoon backpacking di Malang yang kami lakukan. Semoga membawa manfaat bagi para pembaca sekalian. Nantikan chapter cerita honeymoon backpacking di Malang kami selanjutnya ya πŸ˜€

Bagian Ke-2 Cerita Perjalanan Ke Malang

(Visited 1,474 times, 10 visits today)

10 Comments

  1. Wah, ada yang baru sepertinya di alun2 malang. Soalnya udah lama hengkang dari malang. Hahaha. Mbak dilarang mandi di masjid jami’ sebelah alun2? πŸ˜…

    Soal kemacetan, bagi saya malang sudah terlalu sangat macet mbak. Apalagi perempatan sumbersari. Karena ada 4 universitas yang saling berdekatan. Macetnya bisa bikin sakit hati. Wkwkw. Tapi balik lagi tergantung mbak lewat jalur mana. Hehe..nggak semua jalannya macet sih. Seperti di oro oro dowo ya ga macet.

    1. Iya, dilarang mandi. Mungkin karena momennya ga pas, menjelang Sholat Jumat. Jadi petugasnya lagi sibuk bersih-bersih πŸ˜€

      Hehehe, iya kemacetan emang relatif. Saya lagi beruntung juga sepertinya. Banyak dibantu driver taksi online dan momennya tidak high season, jadi bisa lebih menikmati.

      Beda dengan kota domisili saya, Bandung. Wuih, lebih sakit hati lagi tingkat macetnya πŸ˜€

  2. Enaknya traveling itu memang bisa ketemu dan kenal banyak orang yaaa πŸ™‚ . Kdg mereka2 itu bisa jd inspirasi kita. Memperluas wawasan jadinya, penting supaya ga picik cara mikirnya πŸ™‚ . Itu kenapa aku jatuh cinta ama traveling, dan rutin ngelakuinnya stiap tahun ama suami. Kadang berdua, tp kita sisihin juga wkt traveling bareng anak. Ngajarin mereka utk slalu suka jalan2

    1. Betul. Banyak hal tidak terduga yang bisa kita temukan saat traveling. Mulai dari kejadian sehari-hari sampai orang yang kita temui, banyak hal menariknya πŸ™‚

  3. Jadi makin romantis dong mbak abis trip bareng heheheh. Anakku masih kecil soalnya kalau jalan sama suami mungkin kalau anak udah besar atau bisa ditinggal, krn kami ngak ada prt ngak ada yang bisa jagain

    1. hehe, iya mba πŸ˜€

      kami pun sangat terbantu oleh keluarga besar, ada yang bantu menjaga kedua anak kami. perjalanannya juga kami rencanain beberapa bulan sebelumnya, menyesuaikan waktu orang tua saat berkunjung ke Bandung.

  4. aku dulu pernah tinggal beberapa bulan di Malang., trus setahun di Lawang. keduanya dekat. udaranya dingin & sejuk kaya di Bandung tempo dulu. terakhir ke sana tahun lalu, eh ternyata sama kayak di Bandung. udah panas & macet

    1. berarti kami termasuk beruntung ya, bisa nyaman dan ga terjebak kemacetan parah saat traveling ke Malang.

      sekarang tinggalnya di Bandung mba? Satu kota dong kita πŸ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Subscribe Channel Youtube

Copyright 2017 Blog Catatan Bunda