Free Update

Nikmati update cerita Catatan Bunda langsung di smartphone Anda. GRATIS ^_^

Cerita Pengalaman Umroh Saat Hamil Bersama Keluarga

Cerita pengalaman umroh saat hamil. Ya, kali ini saya ingin membagikan kisah perjalanan umroh saya beserta suami dan keluarga. Tepatnya pada tahun 2016 yang lalu. Sudah lama, kami pun mencoba mengingat kembali perjalanan saat itu. Semoga semua detail penting sudah kami ceritakan di dalam kesempatan kali ini 😀

Bagaimana ceritanya bisa berangkat umroh saat kondisi sedang hamil? Saya pun sempat khawatir dan takut akan kondisi kehamilan. Apakah janin saya kuat?

Apakah fisik saya mampu menjalani rangkaian perjalanan mulai pergi ke Tanah Suci hingga pulang kembali ke rumah?

Apakah fisik saya mampu menjalani rangkaian ibadah umroh dengan sempurna?

Banyak kekhawatiran yang menghampiri diri saya saat itu. Akan tetapi, banyak cerita seru yang akhirnya membuat saya bisa berangkat umroh dalam kondisi hamil bersama suami dan keluarga 2 tahun yang lalu. Ikuti terus cerita pengalaman umroh saat hamil kali ini ya 😀

cerita pengalaman umroh saat hamil bersama keluarga - catatan bunda

Cerita Pengalaman Umroh Saat Hamil Bersama Keluarga

Setiap umat Islam pasti ingin yang namanya beribadah langsung di Tanah Suci, yaitu Mekah dan Madinah. Termasuk saya dan suami. Cita-cita untuk berangkat umroh sudah jadi satu doa yang terus menerus kami panjatkan di dalam sholat.

Hingga akhirnya tiba di tahun 2016. Kakak sulung saya mengajak keluarga untuk ibadah umroh bersama-sama. Saya dan suami pun langsung menyambut gembira ajakan tersebut. Anugrah lainnya, kakak sulung akan membiayai ibadah umroh adiknya. Termasuk saya salah satunya.

Jadi kami cukup membayar biaya umroh untuk satu orang saja, yaitu biaya umroh atas nama suami. Alhamdulillah, cukup membayar biaya paket umroh satu orang, kami bisa berangkat berdua. Satu rezeki dari Allah SWT yang tidak kami duga sebelumnya.

foto bersama di halaman masjid nabawi madinah - catatan bunda

Persiapan Berangkat Umroh

Sebelum berangkat, tentunya kami melakukan berbagai persiapan. Mulai dari mempersiapkan kelengkapan dokumen administrasi hingga persiapan fisik. Dalam keberangkatan kali ini, urusan administrasi diurus oleh kakak sulung yang saat itu bertempat tinggal di Jakarta.

Jadi, kami mengirimkan seluruh dokumen yang diperlukan untuk pergi umroh ke alamat kakak di Jakarta. Beda dengan kisah kami lainnya saat berlibur ke Malang beberapa waktu yang lalu. Kami pergi dan mengatur sendiri jadwal perjalanannya.

Beberapa dokumen yang diperlukan untuk berangkat umroh diantaranya:

  1. Paspor yang masih berlaku;
  2. Pas foto;
  3. Buku suntik meningitis;

Sementara visa diuruskan oleh pihak biro travel umroh. Jamaah mendapatkan paket perlengkapan seperti tas koper, kain batik untuk dijahit menjadi pakaian, dan perlengkapan lainnya. Jamaah tidak perlu kebingungan untuk membeli tiket pesawat. Semua kebutuhan jamaah sudah disiapkan oleh pihak travel umroh.

Singkat cerita, rombongan keluarga kami sudah beres semua persyaratan administrasi dan diperbolehkan untuk berangkat ke Tanah Suci. Saya dan suami masih mempersiapkan banyak hal diluar persiapan administrasi. Keadaan ini menjadi satu pengalaman umroh saat hamil yang berharga bagi saya dan suami.

Pelajaran Pertama

Siapkan keperluan administrasi untuk umroh sebaik mungkin

salah satu pintu masjid Quba Madinah - catatan bunda

Cerita Pengalaman Umroh Saat Hamil Anak Kedua

Beberapa bulan sebelum keberangkatan, kami berdua mendapatkan satu rezeki yang luar biasa dari Allah SWT. Apa itu? Saya positif hamil anak kedua.

Pada satu sisi, kami bahagia sekali. Pada sisi lainnya, kami pun was-was karena kehamilannya menjelang keberangkatan umroh. Pertanyaan dan keraguan mulai menghampiri kami berdua.

Keraguan apakah kami bisa berangkat umroh dengan kondisi saya yang sedang hamil anak kedua?

Jika tetap berangkat, apakah janin di kandungan akan kuat? Dan masih banyak pertanyaan lain yang menggelayuti pikiran. Akhirnya, kami pun banyak banyak berdoa dan memohon petunjuk pada Allah SWT mengenai keputusan apa yang harus kami ambil.

Pelajaran Kedua

Banyak berdoa pada Allah SWT mohon diberikan petunjuk

Di tengah persiapan tersebut, kami berdua sepakat berikhtiar untuk konsultasi kondisi yang sedang saya hadapi ke dokter kandungan. Saat bertemu dengan dokter kandungan, kami berdua pun menceritakan apa yang sedang kami hadapi. Dokter kandungan kami tidak melarang, tetapi juga tidak memberikan izin. Beliau hanya memberi rambu-rambu.

Jika kami tetap memutuskan untuk berangkat, maka kami harus “sadar diri”.

Artinya, saya harus tetap ingat bahwa saya sedang hamil. Jadi saat berada di tanah suci, jangan terlalu memaksakan diri. Kejar ibadah wajib yang menjadi rukun umroh. Tidak perlu berlebihan karena tubuh juga memerlukan banyak istirahat.

Pelajaran Ketiga

Ikhtiar melakukan konsultasi dengan Dokter Kandungan

Saat dihitung-hitung, usia kandungan saya masuk bulan kelima ketika jadwal keberangkatan umroh kami. Di lain pihak, saya pun sampai browsing dan mencari informasi, pada umur kandungan berapa janin bisa cukup kuat untuk dibawa bepergian jauh menggunakan pesawat.

Dari hasil browsing, kami menemukan beberapa referensi jawaban dan cerita. Rata-rata usia kandungan pada trimester kedua atau usia 4 bulan ke atas sudah mulai kuat untuk diajak bepergian jauh. Tentunya semua kembali kepada keadaan ibu beserta kekuatan janin masing-masing. Tidak bisa dipukul rata semua sama kekuatannya.

Pelajaran Keempat

Ikhtiar mencari informasi / browsing di internet

Kami berdua tidak lupa untuk diskusi dengan orang tua, keputusan apa yang harus diambil. Orang tua mendukung sepenuhnya tentang apapun keputusan yang akan kami ambil. Apakah memutuskan untuk batal atau tetap berangkat umroh.

Lama sekali kami berdoa dan berpikir untuk mengambil keputusan. Setelah menimbang berbagai kemungkinan, berdiskusi dengan orang tua, berkonsultasi dengan dokter kandungan, pada akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat umroh.

Dengan syarat, saya harus pandai menjaga fisik supaya tidak terlalu lelah sepanjang perjalanan. Selain itu, dokter kandungan memberi nasihat untuk memperbanyak minum air untuk menghindari dehidrasi. Sebuah keputusan untuk mengarungi pengalaman umroh saat hamil yang tidak akan kami lupakan seumur hidup.

Pelajaran Kelima

Diskusi dan minta doa restu orang tua

foto bersama di masjid Quba - catatan bunda

Biaya Berangkat Ibadah Umroh Keluarga

Siapa saja yang ikut berangkat umroh saat itu? Rombongan keluarga kami berjumlah 7 orang. Terdiri dari saya dan suami, kakak sulung dan istri, kakak nomor 2 dan suami, lalu ibunda saya. Salah satu doa saya juga dikabulkan oleh Allah SWT.

Minimal sekali seumur hidup, saya bisa mendapat pengalaman umroh saat hamil dan pergi mendampingi mama.

Berapa biaya paket umroh per orangnya?

Saat itu, kami mengeluarkan biaya sekitar Rp 20 jutaan per orang untuk biaya berangkat umroh. Perjalanan totalnya membutuhkan waktu selama 9 hari. Rombongan terbang dari Jakarta menuju Bandara Doha Qatar untuk transit sejenak.

Setelah itu, kami berganti pesawat lalu melanjutkan perjalanan menuju Bandara Jeddah. Dari bandara Jeddah, kami naik bus menuju Madinah. Lama perjalanan kurang lebih 5 – 6 jam. Di Madinah, kami kurang lebih menghabiskan waktu selama 3 hari.

Kemudian kami meneruskan ke Kota Mekkah selama 4 hari untuk menjalankan proses ibadah umroh. Pengalaman umroh saat hamil ini sangat berkesan buat saya. Selain itu, umroh kali ini merupakan perjalanan yang pertama buat saya dan suami. Insyaallah kami akan kembali lagi ke Tanah Suci.

Cerita Pengalaman Umroh Saat Hamil di Madinah

Kota Madinah menjadi tujuan pertama rangkaian perjalanan umroh rombongan kami. Setelah menempuh perjalanan darat dari Jeddah, kami tiba di Madinah sudah melewati tengah malam. Akan tetapi, badan masih terasa segar bugar.

Rombongan langsung menuju hotel tempat menginap, lalu kami mandi dan langsung menuju ke Masjid Nabawi. Sungguh rasanya sangat nikmat saat berada di area Masjid Nabawi. Udaranya sangat sejuk dan cenderung dingin. Ya, udara di Madinah memang lebih sejuk dibandingkan dengan udara di Kota Mekah.

Saya berpisah dari suami. Saya bergabung dengan kakak dan ibunda untuk menempati area jamaah wanita. Sedangkan suami bersama kakak menempati area jamaah pria. Walaupun dini hari, Masjid Nabawi terus penuh oleh jamaah.

Ada jamaah yang sedang sholat, ada yang berdzikir, dan ada yang sedang tadarus Al-Quran. Kami terus berada di Masjid Nabawi dari dinihari sampai waktu sholat Subuh. Saat di Masjid Nabawi, kami bisa melihat area makam Rasulullah Muhammad SAW yang dikenal dengan nama Raudah.

Raudah merupakan salah satu tempat mustajab untuk memanjatkan doa. Oleh sebab itu, sejak awal kami bertekad untuk bisa masuk ke area Raudah untuk sholat Sunnah dan berdoa.

Pelajaran Keenam

Tetap berbakti untuk mendampingi orangtua yang ikut serta

foto bersama mama di masjid nabawi - catatan bunda

Saya beserta dua kakak bergantian untuk mendampingi mama yang menggunakan kursi roda. Mama saya sudah berusia lanjut, jadi saat proses ibadah di Tanah Suci, selalu naik kursi roda untuk bergerak hingga saat melakukan sholat.

Setelah sholat Subuh, para jamaah langsung bergerak menuju area Raudah. Bayangkan, ratusan hingga ribuan yang bergerak secara serentak, sudah pasti kami harus berdesak-desakan. Ya, saya pun demikian.

Akan tetapi, karena saya mendampingi mama menggunakan kursi roda, ada jalur khusus yang berbeda dari jalur jamaah pada umumnya. Merasakan berdesak-desakan dengan jamaah lain menjadi satu pengalaman umroh saat hamil kala itu, walaupun tidak terlalu berat tantangannya.

Saya meletakkan tangan di depan kandungan untuk melindungi perut sambil terus bergerak untuk bisa masuk ke Raudah.

Pelajaran Ketujuh

Beri perlindungan kandungan sesuai kemampuan maksimal

Kondisi suami beserta kakak di barisan jamaah laki-laki pun sama. Mereka berdesak-desakan dengan jamaah lain yang bertubuh jauh lebih besar. Alhamdulillah kami semua bisa sholat dan berdoa di area Raudah.

Kurang lebih 30 hingga 60 menit kami perlukan untuk antri supaya bisa masuk ke area Raudah lalu menunaikan sholat Sunnah. Selesai sholat Sunnah di area Raudah, baru kami kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak, mandi dan makan. Alhamdulillah, selama di Tanah Suci, saya tidak kesulitan untuk menikmati menu makanan yang disajikan.

Hal ini tentu sangat membantu saya selama menjalani pengalaman umroh saat hamil. Jangan sampai kekurangan makanan dan minuman selama di Mekah dan Madinah supaya kondisi tubuh tetap terjaga.

Pelajaran Kedelapan

Jangan sampai terlambat makan (ingat kandungan..!!)

Di Madinah kami melihat banyak sekali pedagang yang berjualan di luar area Masjid Nabawi. Saat berjalan keluar masjid untuk menuju hotel, kami akan selalu melewati para pedagang ini. Jangan kaget juga saat para pedagang ini fasih berbahasa Indonesia saat berteriak menawarkan dagangannya. Satu cerita pengalaman umroh saat hamil.

Jamaah Indonesia memang sangat banyak yang berada di Tanah Suci. Jadi para pedagang pun menyesuaikan diri untuk bisa berbahasa Indonesia saat bertransaksi. Barang jualannya pun bermacam-macam. Mulai dari menjual pakaian, makanan, hingga wangi-wangian.

Saat ada yang menarik perhatian, jangan ragu untuk menawar harganya ya, supaya anda bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Masjid Nabawi sangat luas. Jalan kaki dari gerbang masuk hingga sampai ke shaf bagian depan saja bisa memerlukan waktu kurang lebih 10 hingga 20 menitan. Oleh sebab itu, supaya bisa mendapatkan tempat sholat di shaf depan, kami harus bergerak menuju masjid paling tidak 2 – 3 jam sebelum waktu sholat dimulai.

Jika terlalu mepet, maka jangan harap bisa mendapat tempat sholat di bagian depan. Saat haus atau kelelahan, kita bisa minum air zam-zam yang disediakan di gallon khusus yang terletak di dalam masjid. Keberadaan gallon air ini sangat membantu bagi saya.

Saya perlu banyak minum supaya tidak dehidrasi atau kehausan. Terlebih lagi yang diminum merupakan air zam-zam, tentunya satu hal yang istimewa. Sebelum minum, kami bisa sambil memanjatkan doa. Selain Masjid Nabawi, rombongan jamaah kami juga berkunjung ke lokasi lainnya yang masih berada di Madinah.

Kami berkunjung ke Masjid Quba dan Pasar Kurma di Madinah. Masjid Quba ialah masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Masjid ini dibangun pada tahun 622 Masehi.

Selanjutnya, kami menuju pasar kurma. Di sini para jamaah bisa membeli kurma jika ingin membawa kurma sebagai oleh-oleh saat pulang kembali ke Indonesia. Selesai 3 hari di Madinah, kami bersiap-siap untuk menuju kota Mekah.

Momen di masjidil haram mekah 2016 - catatan bunda

Cerita Pengalaman Umroh Saat Hamil di Mekah

Saat tiba waktunya untuk menuju kota Mekah, kami dipersilakan untuk memakai kain Ihrom sebagai pakaian saat akan menyelesaikan proses ibadah umroh. Sebelum menuju Mekah, rombongan berhenti di Masjid Bir Ali, 11 km dari Masjid Nabawi.

Masjid Bir Ali digunakan sebagai tempat miqat para jamaah umroh. Sebelum umroh, para jamaah harus berniat terlebih dahulu, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya. Salah satu tempatnya ialah di Masjid yang cantik ini.

Selesai miqat, kami meneruskan perjalanan hingga ke Masjidil Haram. Setiba di sana dan melihat Ka’bah untuk yang pertama kalinya, ada perasaan haru dan bahagia di dalam hati.

Akhirnya kami bisa tiba juga di tempat suci umat Islam yang selama ini hanya bisa kami lihat lewat layar-layar laptop dan smartphone saja.

Singkat cerita, pengalaman umroh saat hamil pun terlaksana. Saya berdampingan dengan suami mengikuti rombongan untuk menyelesaikan rangkaian rukun umroh. Rukun umroh ialah rangkaian kegiatan inti yang harus dikerjakan selama umroh. Jika ada yang terlewat, maka umrohnya tidak sah.

Apa saja rukun umroh tersebut? Rukun ibadah umroh terdiri dari:

  • Niat dan memakai kain ihrom;
  • Thawaf berkeliling Ka’bah sebanyak 7 putaran;
  • Sa’i antara Bukit Shofa dan Marwa
  • Tahallul atau mencukur rambut
  • Tertib

selesai rangkaian ibadah umroh bersama keluarga - catatan bundaSelesai menunaikan rangkaian, kami bergegas untuk pulang dan beristirahat sambil mendampingi mama. Saya harus tetap ingat bahwa dalam perjalanan kali ini, kondisinya jauh berbeda dari keadaan normal. Saya tidak bisa egois dengan memaksakan diri sendiri dengan memforsir tenaga saat beribadah di Masjidil Haram.

Dalam cerita pengalaman umroh saat hamil waktu itu, saya harus mendampingi Mama dan menjaga kondisi janin di dalam kandungan tetap sehat.

Pelajaran Kesembilan

Istirahat cukup setelah menyelesaikan rukun umroh

Untungnya lokasi hotel tempat kami menginap tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram. Selama 4 hari di Mekah, jamaah diperbolehkan untuk ibadah umroh lagi. Akan tetapi, dilakukan dalam kloter kecil. Tidak seperti saat pertama tiba di Masjidil Haram, rangkaian ibadah umroh dilakukan oleh semua rombongan jamaah.

Pelajaran penting lain yang menjadi pengalaman umroh saat hamil ialah selalu dengarkan nasihat ustad yang menjadi pembimbing selama di Masjidil Haram.

Ustad ini biasa dikenal dengan sebutan mutawwif.

Mutawwif akan memberikan aneka tausiyah yang dibutuhkan para jamaah, termasuk mengingatkan peraturan selama ibadah umroh. Para jamaah akan sering dihimbau untuk mentaati peraturan supaya ibadah umrohnya sah sesuai syariat Islam.

Jika ada pelanggaran yang dilakukan, baik selama proses ibadah umroh maupun selama di tanah suci, maka akan ada DAM atau denda yang harus dibayar oleh jamaah.

Pelajaran Kesepuluh

Perhatikan penjelasan ustad pembimbing atau mutawwif

Tidak lepas untuk memanjatkan doa menjadi satu tips saya menjalani pengalaman umroh saat hamil tahun 2016 yang lalu. Ya, namanya juga manusia, tidak akan lepas dari yang namanya salah dan khilaf. Meskipun sedang berada di tanah suci sekalipun.

Oleh sebab itu, banyak minta ampun dan berdoa pada Allah SWT menjadi tips ampuh supaya perjalanan lancar dan kondisi fisik saya selalu dalam keadaan baik. Saat perjalanan umroh 2016 yang lalu, suami dan kakak saya yang laki-laki bisa menjalankan ibadah umroh sampai 2 kali.

Sedangkan saya dan mama hanya satu kali saja. Mengingat kondisi saya yang sedang hamil dan kondisi mama yang sudah berusia lanjut. Ingat nasihat dokter kandungan saat akan berangkat, yaitu saya harus “SADAR DIRI”.

Pelajaran Kesebelas

Sadar diri, cukup melakukan umroh satu kali (sesuaikan dengan kemampuan fisik)

Minum Air Zam Zam

Salah satu keajaiban yang ada di Tanah Suci ialah keberadaan air Zam Zam. Sumur ini terus mengalir sejak masa Nabi Ismail as hingga saat ini. Air Zam Zam akan sangat mudah anda temui pada saat beribadah di kawasan Masjid Nabawi di Madinah hingga Masjidil Haram di Mekah.

Air ini diberi wadah berbentuk galon-galon berukuran besar dan letaknya tersebar di dalam area Masjid Nabawi dan Masjidil Haram. Selain diletakkan di dalam galon, air zam zam juga bisa anda ambil melalui kran-kran khusus yang tersebar di sekeliling dua masjid suci tersebut.

Jika memungkinkan, setiap anda berangkat ke Masjid Nabawi atau Masjidil Haram, anda bawa satu botol di dalam tas. Pengalaman umroh saat hamil yang saya lakukan ini bisa menjadi satu tips sederhana yang berguna bagi anda, para tamu Allah berikutnya.

Botol ini bisa anda isi air Zam Zam di dalam area masjid. Bila anda belum punya botol khusus, anda bisa membeli botol atau jerigen khusus berukuran kecil di toko yang ada di sekeliling hotel. Biasanya banyak.

Waktu itu kami pun demikian, membeli botol jerigen berukuran kecil dengan harga 2 atau 5 riyal per buahnya. Saya lupa persis harganya.

Ukurannya bervariasi, harganya pun bervariasi. Makin besar ukuran botol, makin mahal harganya. Jangan sungkan untuk menawar ya 😀

Pelajaran Kedua Belas

Banyak minum air Zam Zam

minum air zam zam di masjidil haram - catatan bunda

Membawa Uang Seperlunya

Pengalaman umroh saat hamil berikutnya ialah tips bagi anda untuk membawa uang tunai.

Tips pertama ialah jangan membawa uang tunai terlalu banyak. Selain merepotkan, fokus anda bisa jadi malah terlalu memikirkan belanja saja nantinya karena terlalu banyak uang yang dibawa.

Tips kedua ialah bawa uang rupiah juga tidak masalah. Ketika anda mau membeli sesuatu, sudah banyak pedagang yang menerima mata uang rupiah. Jika anda tidak yakin, anda bisa menukar uang rupiah dengan mata uang riyal ketika tiba di Tanah Suci, baru anda belanjakan uang tersebut.

Tips yang ketiga ialah pisah lokasi uang tunai anda. Jangan letakkan uang tunai di satu lokasi pada tubuh anda. Misalkan, anda bisa pisah letak uang tunai di kantong kiri dan kanan celana, lalu sebagian lagi di dalam tas, baru sebagian lainnya di dalam dompet.

Hal ini perlu anda lakukan bila anda tidak beruntung dan bertemu dengan orang tidak baik di Tanah Suci yang mencuri uang anda. Tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga. Betul? 😀

Pelajaran Ketiga Belas

Bawa uang tunai secukupnya

Pulang Kembali ke Indonesia

Alhamdulillah, sampai juga di hari terakhir kami di Mekah. Setelah melakukan thawaf Wada’ atau thawaf perpisahan, kami pulang kembali ke Indonesia. Penerbangan kami dari Arab Saudi hingga tiba kembali di Indonesia berjalan dengan lancar.

Kami pun sangat rindu untuk bertemu kembali dan beraktivitas dengan anak dan orangtua kami yang membantu menjaga anak sulung kami selama menjalani pengalaman umroh saat hamil. Kondisi janin dalam kandungan saya alhamdulillah berada dalam kondisi yang baik, hingga tiba pada waktunya melahirkan anak kedua.

Bagi teman-teman pembaca yang belum berangkat umroh, teruslah banyak berdoa pada Allah SWT. Percaya deh, akan muncul keajaiban dan jalan tidak terduga yang Allah rencanakan buat kita semua.

Pelajaran Keempat Belas

Allah punya rencana yang indah bagi hambaNya

Seperti yang kami berdua alami selama masa persiapan, saat berangkat ke Tanah Suci, hingga saat tiba kembali di Indonesia. Momen pengalaman umroh saat hamil yang berharga bagi kami berdua. Bagi teman-teman pembaca yang sudah pernah umroh, tentu bisa merasakan bagaimana rindunya ke Tanah Suci.

Rasa rindu ingin kembali berkunjung lagi ke Mekah dan Madinah. Semoga kita semua dimampukan dan dimudahkan untuk berangkat ke Tanah Suci. Mohon doakan kami sekeluarga ya, supaya bisa diberikan jalan untuk berangkat lagi ke Tanah Suci bersama seluruh keluarga.

Demikian cerita pengalaman umroh saat hamil yang saya jalani bersama suami dan keluarga. Semoga kisah kali ini ada manfaat dan menginspirasi para pembaca sekalian. Sampai ketemu di kisah selanjutnya 😀

(Visited 860 times, 6 visits today)

4 Comments

  1. Mba bagaimna tetap bisa berangkat umroh, tp tdk vaksin, mengingat mba dlm keadaan hamil pihak kkp pasti tdk mau memberikan vaksin, trus bagaimana, bs tetap berangkat? Atau ada opsi lain dr biro atau gimana?..

    1. Saya sudah vaksin jauh-jauh hari mba, beberapa bulan sebelum berangkat. Antara dua kemungkinan. Sebelum saya hamil atau sebelum ketauan hamil.

      Yang jelas tidak mepet banget vaksinnya. Jadi tetap diijinkan untuk berangkat umroh 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada Pertanyaan?

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda