Free Update

Nikmati update cerita Catatan Bunda langsung di smartphone Anda. GRATIS ^_^

Anak Susah Membaca, Bagaimana Tips Praktis untuk Mengatasinya?

Bagaimana menghadapi anak susah membaca?

Tiap tahapan perkembangan anak selalu ada saja tantangan yang saya dan suami rasakan. Anak yang berkembang, orangtuanya juga tidak boleh ketinggalan informasi. Jika ketinggalan sedikit, kami yang gelagapan untuk mengimbangi perkembangan anak. Seru ya? Tentu… Sangat menegangkan dan menyenangkan.

Perkembangan Mirza sempat terhambat ketika usia 3 tahun. Saat itu, Mirza belum bisa bicara dengan lancar (speech delay / gangguan bicara ekspresif). Dalam perjalanannya, Mirza harus menjalani terapi wicara sampai akhirnya sekarang sudah lancar untuk berbicara.

Satu tantangan selesai, tantangan lainnya tidak lama muncul. Tantangan berikutnya tiba ketika menghadapi anak susah membaca. Jangankan untuk membaca, mengingat angka, huruf alphabet, hingga huruf hijaiyah masih sangat kesulitan. Sudah diulang berkali-kali, dia inget. Akan tetapi, coba ditanya sekian menit kemudian. PASTI. Dia langsung lupa.

Tantangan menjadi orangtua sangatlah banyak, salah satunya ialah anak susah membaca. Apakah anda termasuk yang mengalaminya? Jika iya, kita punya tantangan yang sama. Dalam cerita kali ini, kami akan coba menceritakan beberapa hal mengenai Mirza, anak sulung kami seputar tema anak susah membaca.

Kami bukanlah orangtua yang sempurna. Kekurangan saya beserta pasangan sangatlah banyak. Akan tetapi, kami berusaha untuk terus belajar memperbaiki diri. Kami yakin, seluruh orangtua yang membaca ini akan melakukan hal yang sama untuk terus belajar.

Btw, sudah gabung di channel Telegram? Jika belum, kami sarankan untuk join ya. Di dalam channel tersebut, kami akan menceritakan berbagai kisah perjalanan keluarga yang dijalani. Siapa tahu ada manfaat yang bisa anda petik saat bergabung.

Cara gabungnya gimana? Mudah, cukup scroll halaman ini hingga ke atas. Anda akan menemukan tombol untuk langsung join ke dalam channel Telegram. Belum punya telegram? Solusinya mudah, cukup download dan install saja melalui Playstore atau Appstore. Ajak sahabat dan teman-teman yang lain ya, kita akan ketemu di dalam channel.

Seperti apakah cerita tentang Mirza? Simak terus kisah selengkapnya ya. Mudah-mudahan bahasan sederhana kali ini memberi manfaat bagi banyak orang. Baik itu para orangtua seperti kami, maupun para pembaca yang belum menikah. Selamat menikmati 😀

peran penting orangtua saat menghadapi anak susah membaca - catatan bunda

Rasa Frustrasi Karena Anak Susah Membaca

Cerita kali ini akan kami awali dengan flashback ke masa beberapa waktu yang lalu. Tepatnya, saat Mirza masih duduk di TK A. Oya, saat ini Mirza sudah berada di TK B dan sebentar lagi anak kami akan masuk SD. Yeayy, anak kami sudah besar, sudah mau lajang ternyata hehehe 😀

Di sekolahnya, ada satu “mata pelajaran” yaitu belajar membaca dan mengenal huruf hijaiyah. Kita lebih mengenalnya dengan istilah belajar IQRO. Satu buku yang digunakan saat kami masih kecil. Isinya tentang huruf hijaiyah yang menjadi dasar untuk membaca Al Quran. Di sekolah Mirza, bukunya diberi nama Buku Tartili. Singkatnya, anak-anak diajari metode membaca cepat huruf hijaiyah.

Setiap hari, Mirza dan teman-temannya akan diajak membaca oleh bunda guru. Dalam prosesnya, bunda guru akan memberi penilaian pada tiap murid. Apakah yang bersangkutan sudah paham dan hapal huruf hijaiyah tertentu atau belum. Indikator tersebut akan dituliskan ke dalam buku perkembangan tiap anak.

Kami, sebagai orangtua juga bisa melihat indikator yang disampaikan oleh bunda guru. Jika hasil membaca dan menghapalnya baik, murid akan meneruskan ke huruf hijaiyah berikutnya. Apabila belum hapal, murid tidak bisa melanjutkan dan harus mengulang.

Setiap harinya anak diajak membaca 1 halaman. Ketentuannya adalah menyebut huruf dengan benar dan dibaca cepat. Jadi jika ada 3 kali salah huruf atau membacanya lama, maka dia akan mendapat kode L- disertai icon sedih ☹.

Artinya, anak tidak bisa melanjutkan ke halaman berikutnya dan harus mengulang. Maka dari itu, bunda guru di sekolah meminta bantuan orangtua saat di rumah. Tidak lain tidak bukan untuk membantu mengulang membaca buku tartili minimal 1 kali sehari.

Kondisi Mirza tergolong anak susah membaca menurut pengalaman kami berdua. Jangankan membaca cepat, untuk mengingat huruf saja butuh perjuangan keras. Bahkan sampai ada pemaksaan dari saya. Betul, harusnya tidak dipaksa, tetapi siapalah saya yang bukan ibu sempurna tapi kepengen anaknya jauh lebih baik.

Rasanya kemajuan Mirza dalam membaca Tartili ini lambat sekali. Untuk mendapatkan nilai yang baik berupa L dengan icon 😊 butuh pengulangan sekian puluh kali hingga mulut saya berbusa-busa rasanya hehehe…

Tau darimana perkembangannya lambat?

Jadi begini, buku ke-1 ada 2 tingkatan:

  1. Halaman 1 – 15 (Alif – Dho) disebut jilid TK A.
  2. Halaman berikutnya 16 – 29 (Tho – Dzo) Jilid TK B.

Rata-rata teman Mirza sebelum lulus TK A, mereka sudah banyak yang sudah ada di jilid TK B, bahkan sudah nyambung buku ke-2. Sedangkan Mirza masih berkutat di jilid TK A, jadi huruf Alif – Dho nggak khatam-khatam.

Pada tahap ini, Mirza masih sangat kesulitan untuk mengikuti. Sementara itu, teman-teman yang lain sudah mengebut ke halaman berikutnya. Bahkan ada beberapa yang naik jilid dengan cepat.

Bukan berarti saat di rumah kami tidak melatih Mirza. Hampir setiap hari, proses latihan membaca huruf hijaiyah terus kami lakukan. Setiap ada kesempatan, kami membaca ulang buku tartili. Metode membaca bergantian menjadi pilihan yang digunakan. Kami membaca pertama, Mirza menyimak apa yang diucapkan. Setelah itu gentian Mirza yang mengulang bacaan.

Akan tetapi, Mirza masih kesulitan untuk mengingat. Kejadian ini berlangsung lumayan lama. Sampai-sampai kami sempat mengira Mirza terkena gangguan khusus seperti disleksia. Sempat sedih juga memikirkan hal ini. Namanya orangtua, perkembangan anak menjadi hal yang menjadi pikiran utama.

Akhirnya, kami putuskan untuk konsultasi saja dengan dokter. Singkat cerita, dugaan saya tidak terbukti. Mirza berada dalam kondisi yang normal. Memang ada sedikit kendala sensor motorik pada diri Mirza. Kisah mengenai bagian ini akan kami sharing pada kesempatan selanjutnya.

Mirza tidak ada masalah dengan mengenali simbol. Baik itu huruf alphabet, huruf hijaiyah, maupun angka. Jadi, anak susah membaca seperti Mirza ini bukan hal yang harus dikhawatirkan. Dalam kasus kami, kondisi Mirza saja yang belum matang.

Bahkan, kami sempat kena marah dari dokter karena memaksa Mirza untuk langsung bisa membaca. Dokter pun memberi pemahaman dan cara yang bisa kami lakukan sebagai penanganan. Tahap mengenalkan boleh, tetapi memaksa untuk langsung paham itu yang tidak diperkenankan.

belajar membaca huruf hijaiyah untuk anak - catatan bunda

Cara Mengatasi Anak Susah Membaca

Lalu, apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi anak susah membaca? Satu cara utama ialah melakukan pengulangan. Kami mulai dari yang mudah terlebih dahulu. Tahap yang harus dilalui Mirza memang sangat banyak.

Mengenalkan angka menjadi langkah awal yang kami lakukan. Proses simulasi dilakukan setiap hari. Sambil berjalan, kami mengenalkan yang lain, seperti huruf hijaiyah dan huruf alphabet. Aneka jenis simulasi seputar angka, huruf alphabet, dan huruf hijaiyah terus kami coba.

Tidak terasa, waktu terus berlalu. Mirza pun lulus dari TK A dan melanjutkan ke jenjang TK B. Seiring waktu, perkembangan Mirza terus membaik. Tadinya masih kesulitan, tetapi sekarang sudah mulai membaik.

Selain itu, partisipasi orangtua akan memberikan peran besar bagi perkembangan anak. Jika bukan orangtua yang andil besar, siapa lagi yang bisa mendidik anak. Bunda guru di sekolah? Tentu bukan.

Anak merupakan tanggungjawab dan amanah dari Allah SWT untuk orangtua. Termasuk urusan memberikan pendidikan. Orangtua harus berperan aktif untuk berinteraksi dengan anak. Salah satu tujuannya ialah supaya masalah anak susah membaca bisa diselesaikan.

Tips selanjutnya untuk mengatasi anak susah membaca ialah punya stok sabar yang melimpah. Ya, menjalani proses ini tidaklah mudah. Banyak halangan dan rintangan yang ditemui.

Jika orangtua seperti kami putus asa di tengah jalan, mau jadi seperti apa anak kami nantinya? Oleh sebab itu, kami menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran untuk terus berjuang. Simulasi bersama Mirza terus dilakukan setiap hari.

aneka tips mengatasi anak susah membaca - catatan bunda

Memantau Perkembangan Anak

Simulasi membaca buku terus dilakukan di rumah. Latihan mengulang nama angka terus dijalankan. Demikian halnya simulasi mengulang bacaan huruf hijaiyah. Mengenal angka menjadi area pertama yang dikuasai Mirza. Baru diikuti oleh huruf alphabet dan huruf hijaiyah.

Jumlah angka yang sedikit menjadi satu faktor yang mempermudah prosesnya. Walaupun masih ada kebingungan di angka puluhan, tetapi kami merasa Mirza sudah jauh lebih meningkat pemahamannya.

Demikian halnya saat belajar huruf alphabet. Dari kecil, kegiatan membaca buku menjadi satu aktivitas menarik untuk Mirza. Mendengarkan mama atau ayahnya membacakan cerita, Mirza bisa duduk tenang dan menikmati proses tersebut.

Ditambah lagi saat mulai jenjang TK B, tiap murid diberikan buku untuk belajar membaca. Alhamdulillah, dari situ kami bisa melihat perkembangan Mirza. Dari obrolan dengan bunda guru, Mirza sudah bisa mengikuti tahapan yang dijalankan. Perlahan-lahan, Mirza bertransformasi dari anak susah membaca menjadi anak yang sangat suka membaca. Betul-betul membaca, bukan cuma buka buku dan melihat gambar seperti yang dulu dia lakukan.

Saat berada di rumah, Mirza selalu antusias belajar membaca. Meskipun tanpa didampingi kami berdua, kami sering mencuri dengar apa yang dikatakannya. Sering sekali Mirza membaca buku bacaan yang didapat dari sekolahnya. Mirza mengulang bacaannya dengan tekun selayaknya anak yang sedang belajar membaca.

Ketika jalan-jalan bersama keluarga pun demikian. Misalnya saat pergi bermain ke De Ranch Lembang. Mirza membawa beberapa buku bacaan ke dalam mobil. Buku-buku tersebut akan dilihat dan dibaca sepanjang perjalanan.

Kami sangat bahagia mendapati perubahan besar tersebut. Perjuangan selama ini mulai membuahkan hasil. Bayangan anak susah membaca mulai menghilang dari benak kami berdua.

Kami hanya perlu menjaga momentum supaya Mirza terus berkembang. Kini, metode yang dilakukan sudah lebih bervariasi. Salah satu favoritnya ialah sambil mendengarkan murottal Al-Quran. Bayangkan, tadinya untuk menyimak dan mengulang bacaan singkat dari kami, Mirza sempat mengalami kesulitan. Hingga akhirnya, saat ini Mirza bisa mengikuti bacaan murottal surat pendek di Juz 30 yang didengarnya.

mendampingi anak susah membaca untuk terus berlatih - catatan bunda

Menjaga Momentum

Kini, tantangan anak susah membaca sudah dilalui. Tugas kami selanjutnya ialah menjaga momentum yang sudah bagus seperti ini. Apa yang kami lakukan?

Kami berdua sempat membahas hal ini. Sebagai apresiasi untuk perkembangannya, sempat memikirkan, apa ya hadiah yang cocok untuk Mirza? Jika membeli buku, koleksi buku bacaan Mirza sudah sangat melimpah. Saat jalan-jalan ke toko buku, Mirza selalu pulang membawa buku baru untuk dibaca.

Sudah menjadi kebiasaan kami untuk membelikan buku bacaan bagi Mirza. Kami sudah tahu bahwa Mirza belum bisa membaca. Akan tetapi, bukankah seorang anak punya visual dan imajinasi yang kuat?

Meskipun anak susah membaca karena belum paham huruf alphabet, tetapi dia bisa memperhatikan gambar yang ada di buku. Dari ilustrasi tersebut, pikirannya akan berimajinasi membentuk cerita tersendiri. Pikirannya bisa terus berkembang. Lalu, pada beberapa kesempatan, kami akan mendampinginya untuk membacakan cerita yang ada di buku.

Sempat terbersit untuk menghadiahkan Al Quran. Mirza memang belum lulus saat membaca buku tartili di sekolah. Akan tetapi, alangkah lebih baik jika kami mengenalkan Al Quran sejak anak usia dini.

Pekerjaan menantang berikutnya, bagaimana caranya untuk membuat Al Quran terlihat menarik bagi Mirza? Jika buku bacaan, kita semua paham bahwa variasinya sangatlah banyak. Baik dari jalan cerita hingga gambar ilustrasi di dalamnya. Semua hal tersebut bisa menarik perhatian Mirza.

Berbeda jauh dengan Al Quran. Tidak ada berbagai jenis Al Quran. Namanya Al Quran, kitab suci umat Islam ya hanya ada satu jenisnya. Original dan tetap terjaga sejak diturunkan hingga akhir zaman.

Jadi, apa yang kami lakukan untuk menarik perhatiannya? Kami mencari cover Al Quran yang lebih bernilai dan terlihat elegan. Kami sempat melihat-lihat di beberapa marketplace besar untuk mencari inspirasi. Akhirnya, pilihan kami jatuh kepada cover Al Quran kulit asli.

cover al quran kulit asli sebagai hadiah untuk anak - alquran syamiil - catatan bunda

Seperti yang kita ketahui bersama, kulit biasanya lebih awet. Apalagi jika terbuat dari kulit asli, bukan kulit sintetis. Makin lama usianya, kulit asli akan terlihat lebih antik dan keren.

Jika hanya dari kulit asli saja, daya tariknya untuk Mirza masih kurang menurut kami. Oleh sebab itu, kami memilih cover Al Quran kulit yang bisa diberi ukiran berupa nama dari pemiliknya. Akhirnya, kami putuskan untuk menuliskan nama lengkap Mirza pada cover kulit tersebut.

Kebetulan momennya juga tepat. Mirza sedang menjalani peralihan dari anak susah membaca menjadi hobi membaca. Hampir setiap hari, Mirza banyak bertanya mengenai kata-kata dan huruf penyusunnya. Salah satu yang sering dilatih ialah mengenal bentuk tulisan dari namanya sendiri, M – I – R – Z – A.

Mirza pun sangat senang saat melihat ada tulisan nama di cover Al Quran miliknya. Bolak-balik dia membaca dan mengeja namanya. Sambil memperkenalkan Al Quran, kami sambil memberi penjelasan mengapa kami memilih Alquran kulit sebagai hadiah untuknya. Kami menjelaskan secara singkat seperti penjelasan di atas.

Harapan kami sebagai orangtua sangat sederhana. Al Quran tersebut bisa dibawa, dibaca, dan dipelajari terus hingga Mirza tumbuh dewasa. Al Quran dengan cover kulit miliknya akan menjadi salah satu kenangan terindah dari orangtuanya.

Kami pun bisa memilih Al-Quran dengan beberapa tipe. Apakah yang full huruf Arab atau mushaf Al Quran dengan tafsir atau terjemahan. Pilihan kami jatuh pada tipe Al Quran yang menggunakan terjemahan ke Bahasa Indonesia. Walaupun tidak sempurna, kami bisa belajar saat membaca Alquran beserta dengan tafsirnya.

pilihan alquran full arab atau terjemahan - cover al quran kulit asli - catatan bunda

Pelajaran dan Hikmah dari Anak Susah Membaca

Banyak hikmah yang kami rasakan saat menghadapi anak susah membaca. Bisa jadi masalah dan tantangan yang dihadapi tiap orangtua akan berbeda. Masalah yang kami hadapi ialah Mirza yang belum paham tentang angka, huruf latin, dan huruf hijaiyah. Sayangnya, pendekatan awal yang kami lakukan pada Mirza kurang tepat. Hingga akhirnya kami mendapat teguran khusus dari dokter.

Saat menghadapi masalah seperti ini, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua. Pertama, ialah jangan panik atau cepat marah. Jika mudah panik, kami tidak akan bisa berpikir dengan jernih. Padahal, proses berpikir jernih ini sangatlah penting untuk mengurai permasalahan anak susah membaca yang sempat kami hadapi.

Kedua, yang harus disadari ialah segala sesuatu pasti ada penyebabnya. Termasuk kejadian anak susah membaca. Tugas kami sebagai orangtua ialah ikhtiar untuk mencari tahu apa yang jadi faktor penyebab. Jika anda seorang expert atau ahli di bidang ini, anda bisa lakukan observasi sendiri. Bila anda termasuk orangtua awam seperti kami, maka saran terbaik dari kami ialah lakukan konsultasi dengan yang lebih ahli.

Saat melakukan tahapan ini, kami menemukan apa yang menjadi penyebab anak susah membaca. Proses ini sangat menarik untuk kami. Memang butuh waktu dan tidak bisa instan hasilnya. Akan tetapi, seperti itulah yang namanya belajar. Ya, perjalanan ini ibarat proses belajar bagi kami berdua sebagai orangtua. Nikmati saja proses yang berlangsung.

Ketiga, mendampingi anak merupakan satu hal wajib. Tidak bosan-bosannya kami mengingatkan hal ini. Anak merupakan amanah dari Allah SWT untuk para orangtua. Oleh sebab itu, mendidik anak setiap saat sudah menjadi tugas utama bagi orangtua. Memang melelahkan prosesnya. Ada cucuran keringat hingga air mata di dalamnya. Siapa bilang menjadi orangtua itu ringan? Tidak sama sekali.

Akan tetapi, beratnya perjuangan itulah yang akan menjadi pemberat amal bagi orangtua kelak di akhirat. Nikmati dan lakukan sebaik-baiknya. Tenang, anda tidak sendiri saat berperan sebagai orangtua. Ada kami di sini dan jutaan bahkan milyaran orangtua lain di seluruh dunia yang berjuang untuk mendidik anaknya. Tetap semangat ya 😀

Keempat, hindari memaksa seperti yang sempat kami lakukan. Apapun keadaan anak, hindari pemaksaan saat belajar membaca. Ketika dipaksa, fokus anak akan lebih berantakan. Anak susah membaca atau tidak menyimak perkataan orangtua akan menjadi reaksi normal yang muncul ketika dipaksa.

Mirip-miriplah saat mengajak anak makan atau wisata kuliner enak ke satu tempat yang baru. Jika dipaksa, mana mau mereka ikutan makan. Bisa-bisa malah bad mood duluan. Meskipun sajiannya sederhana seperti soto khas Boyolali, jika sudah bad mood, maka tidak akan ada yang masuk 😀

Orangtua harus lebih kreatif mencari metode yang baru. Tujuannya supaya anak berada dalam keadaan rileks. Dengan demikian, anak bisa merespon lebih bagus saat berlatih membaca bersama-sama.

Kelima, orangtua harus konsisten melatih anak untuk membaca. Lakukan setiap hari. Tidak perlu menghabiskan waktu lama. Cukup 15 hingga 30 menit saja setiap sesi. Jika anak masih kuat dan antusias, bisa dilanjutkan lebih lama.

Hasil tidak akan mengkhianati proses. Prinsip itulah yang kami pegang teguh saat melatih anak dalam berbagai bidang kesukaannya. Termasuk saat anak susah membaca. Jadi, nikmati saja proses latihan bersama anak. Momen tersebut merupakan satu kesempatan yang berharga bagi orangtua dan anak.

Demikian cerita singkat perjalanan keluarga saat menghadapi anak susah membaca. Semoga kisah kali ini memberi manfaat bagi para pembaca sekalian. Terima kasih sudah berkenan menyimak proses menghadapi anak susah membaca hingga selesai. Sampai ketemu pada cerita dan petualangan kami berikutnya.

(Visited 42 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ada Pertanyaan?

Channel Youtube

Copyright 2017 - Catatan Bunda